RUANG KOPI

RUANG KOPI

  • WpView
    Membaca 433
  • WpVote
    Vote 90
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Nov 27, 2018
"Lo memupukkan rasa yang tak terdefinisikan di hati gue, Bara!" Teriak Alana sambil menutup wajahnya yang tampak memerah. "Dan lo berhasil menghujani pikiran gue dengan pernyataan lo itu, bikin pusing." Bara kembali fokus menggambar. - Keyakinanku terhadap opini 'semua pria itu sama.' mulai goyah hanya karena laki-laki cuek, pindahan dari Jakarta yang menghabiskan tiap harinya di Ruang kopi. Dia selalu membawa sebuah buku tebal dan 2 buah pensil. Aku pernah melirik apa saja yang pensilnya goreskan di buku tersebut, rupanya dia senang menggambar dan menuliskan beberapa kalimat di setiap lukisannya. Ku harap, dirikulah yang ia gambarkan, bah mimpi!
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#329
kopi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • Fourple Of Love
  • Lintang Waktu ✔
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • Setelah Langit Berbisik
  • Bara & Tara
  • Rasa yang tertahan(On Going)
  • Stay With Me
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.

Di antara ruang-ruang waktu yang rapuh, ada dua bayang yang saling mengenal tanpa pernah benar-benar berjanji untuk bertemu. Seperti angin yang tak bisa dijinakkan, mereka terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terucap-seperti dua kutub yang selalu saling mendekat, namun tak pernah benar-benar menyatu. Shani dan Gracia-dua nama yang berpadu dalam riuh dan hening yang tak berujung. Sebuah kisah yang tumbuh di antara jeda-jeda keheningan dan kesalahpahaman, di mana cinta hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, tetapi sebagai sesuatu yang terus menguji batas. Dari pertemuan yang tak sengaja, hingga keputusan yang menggantung di antara masa lalu dan masa depan, mereka bergerak dalam ruang yang terperangkap di antara harapan dan ketakutan. Cinta yang pernah lahir di celah-celah keterasingan kini harus dipahami kembali-apakah ia benar-benar bisa menjadi rumah, atau hanya sekadar bayang yang tak bisa digenggam? Dan seperti jejak yang ditinggalkan di pasir pantai yang terus dihempas angin, mereka mencoba mengerti: apakah ini adalah akhir... atau justru awal dari perjalanan yang lebih jauh?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan