A Turtle Meets A Dog

A Turtle Meets A Dog

  • WpView
    Membaca 181,493
  • WpVote
    Vote 18,406
  • WpPart
    Bab 36
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Nov 5, 2021
Klien adalah manusia paling random bagi seorang marketing officer radio seperti Rindai. Entah itu soal reaksi yang muncul, bagaimana bentuk wajahnya, dan di mana keberadaan seorang klien semuanya seperti alur cerita yang unpredictable. Mencari klien berarti siap untuk bertemu banyak orang. Ya memang tuntutan kerjaan. Tetapi apa Rindai tidak boleh mengeluh? Rindai mengeluhkan soal kerjaan kepada Erkan. Erkan adalah sosok yang menjadi inspirasi Rindai dalam menjalani hidup. Lelaki itu tidak pernah mengeluh. Walau kerjaannya sebagai Campers (camera person) cukup menyita waktu & energi, tetapi dia tetap terlihat enjoy karena sering dapat tugas di luar kota. Tak hanya soal pekerjaan, Rindai juga mengeluhkan kisah percintaannya yang menyedihkan. Namun, Rindai tidak sendiri. Ada teman-teman lainnya yang sering berbagi cerita dengannya di Graha Biru. Ada Arsen, Ijang, & Yudhis. Para lelaki yang juga punya pekerjaan yang berbeda-beda.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#58
editor
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Rekonsiliasi Hati ✔
  • Ladinda dan Lelaki Patah Hati [PROSES PENERBITAN]
  • Love in Instagram (Komplit)
  • Heartbeat Trauma
  • Being Love (TAMAT)
  • Titah Agung
  • COMFY-Versation
  • INCIPTU [Complete]
  • RAYCILA [END]

||COMPLETE|| re·kon·si·li·a·si - rékonsiliasi - n - perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan. *** Hidup di tengah masyarakat yang masih kental akan budaya patriaki memang bikin emosi. Sebagai perempuan selalu dituntut untuk bisa segala hal yang seharusnya bukanlah sebuah kewajiban. Belum lagi stigma yang ada di masyarakat yang makin hari makin gak ada akhlak. Tertekan sudah menjadi bagian dalam menjalani masa depan. Tekanan di tempat kerja juga menjadi salah satu penyebab kegilaan ini. Antara tugas dan jam kerja yang gilanya gak masuk akal, tapi gaji yang diberikan tak seberapa. Ini tuh kerja atau perbudakan dengan gaya, bikin capek aja. Mana ada ekspetasi dari orang tua yang makin bikin runyam kepala, astaga begini sekali hidup di tengah cekikan masyarakat. Ini kalau gagal ditengah jalan mau jadi apa coba, mereka terlalu menaruh ekspetasi tinggi padanya. Siap-siap sudah dinikahkan paksa buat menanggung malu akan kegagalan. Padahal nikah juga bukan solusi, malah makin menambah beban masalah hidup. Gini nih kalau jadi anak perempuan, kalau berhasil kagak dipuji tapi kalau gagal siap-siap dijodohin. - Judistia Savrinadeya -

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan