Adistisya Feriandika

Adistisya Feriandika

  • WpView
    Reads 180
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 25, 2019
Aku, anak yang tumbuh tanpa belas kasih orang tua. Bukannya aku seorang anak yatim piatu. Tetapi, orang tuaku tak pernah menganggapku ada. Tes DNA sudah ku lalui dan hasilnya menyatakan aku anak mereka. Namun, mereka tetap kukuh bahwa tidak pernah melahirkan anak perempuan. Setelah aku tahu. Marga keluargaku tidak pernah mengakui anak perempuan mereka. Bahkan, saudara sepupu perempuanku mati. Tak tahan dengan semua itu. Tekanan bathin. Selalu terasa ketika melihat saudara laki-laki mendapatkan semua apa yang dia inginkan. Seorang ibu. Yang biasa akan tergugah hatinya. Ketika melihat anaknya terlantar. Dan kini, hanya sebatas kata kata mutiara yang kehilangan harganya. Tak ada makna.
All Rights Reserved
#719
hiburan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • (Bukan) Keluarga
  • NEVER CHANGE ME & YOU
  • The End of Keyra's Revenge
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • MY UNIVERSE - RORASA
  • AMORA
  • Discarded Miracle~~
  • Alkara ( Terbit)
  • Cerita Tentang Kita
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]

Sequel 'Umi untuk Putraku' __________________________ Dulu, ia menikah dengan seorang duda berbuntut satu. Namun, sekarang ia men-janda. Tertinggal putra putrinya yang menjadi kunci ia bersemangat. Keduanya pula yang menjadi alasan kuat ia berusaha bangkit dalam kesenduan. Pikirnya semua akan baik ketika hatinya telah tertata apik setelah mengikhlaskan sedikit kepergian sang suami. Kenyataan berbanding terbalik. Awalnya semua baik, sangat baik. Sampai ia dijatuhkan oleh perasaan yang ia pikir baik. Semua kembali seperti dulu. Ketika ia dipinang almarhum sang suami dan memiliki putra sambung yang saat itu belum menerimanya. Ia harus berperang kembali merebut hati sang putra. Namun, bedanya tak ada sang suami yang menyemangatinya. Dengan hati yang masih berusaha mengikhlaskan almarhum sang suami, ia harus menggunakan sisa hatinya untuk melunakkan hati putranya yang tiba-tiba kembali mengeras entah karena apa. Ketika dulu sang suami melarangnya untuk bekerja, kini ia harus memaksa tulangnya untuk bekerja keras. Bukan hanya satu atau dua pekerjaan yang ia lakukan, tapi banyak pekerjaan yang dilakukannya. Tak ada waktu luang baginya. Hari-hari hanya ada kerja, kerja, dan kerja. Dengan menggendong sang putri ke mana pun langkahnya membawa. Semua demi sang putra yang berubah layaknya singa kelaparan. Pun dengan putrinya yang turut menjadi takut tiap kali melihat sang kakak. "Tak peduli badanku hanya tersisa tulang dan kulit. Apapun akan kulakukan untuk putraku." "Tak peduli badanku kurus kering tak terawat. Apapun akan kulakukan asal putriku bisa makan dengan kenyang." Kisah akan dimulai. Bagaimana single parent rapuh itu menjalani hidup barunya ...? SELAMAT MEMBACA:) Cover: Pinterest+Canva

More details
WpActionLinkContent Guidelines