Adistisya Feriandika

Adistisya Feriandika

  • WpView
    Membaca 179
  • WpVote
    Vote 40
  • WpPart
    Bab 8
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Jan 25, 2019
Aku, anak yang tumbuh tanpa belas kasih orang tua. Bukannya aku seorang anak yatim piatu. Tetapi, orang tuaku tak pernah menganggapku ada. Tes DNA sudah ku lalui dan hasilnya menyatakan aku anak mereka. Namun, mereka tetap kukuh bahwa tidak pernah melahirkan anak perempuan. Setelah aku tahu. Marga keluargaku tidak pernah mengakui anak perempuan mereka. Bahkan, saudara sepupu perempuanku mati. Tak tahan dengan semua itu. Tekanan bathin. Selalu terasa ketika melihat saudara laki-laki mendapatkan semua apa yang dia inginkan. Seorang ibu. Yang biasa akan tergugah hatinya. Ketika melihat anaknya terlantar. Dan kini, hanya sebatas kata kata mutiara yang kehilangan harganya. Tak ada makna.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#959
hiburan
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Rumah Orang Mati
  • The End of Keyra's Revenge
  • (Bukan) Keluarga
  • MY UNIVERSE - RORASA
  • Di Balik Kacamata [END]
  • Masa depan yang terulang
  • Di Antara Kita (END)
  • Mantan Housekeeper Bos! (Housekeeper Series)

⚠️TRIGGER WARNING⚠️ ⚠️CHILDHOOD TRAUMA ⚠️CHILD ABUSE ⚠️MANIPULATION ⚠️SELF HARM ⚠️TOXIC FAMILY AND RELATIONSHIP ⚠️VIOLENCE ⚠️REVENGE⚠️ Memperlihatkan berbagai macam bentuk hati dan sakitnya. Mulai dari situasi rumah yang mengancam nyawa hingga rumah yang tak bernyawa. Ada mata yang sudah mati dan ada mayat hidup. Inilah kepalsuan yang dinyatakan bahkan kenyataan yang dipalsukan. "Orang tua selalu ingat jasa mereka, namun tidak pernah bahkan melihat usaha anaknya. Anak itu juga kesusahan menjaga kepribadiannya. Banyak hal mengerikan yang bisa tumbuh didalam diri kita, menjadi pembohong, pencuri bahkan psikopat. Fase ini selalu mengelilingi, menunggu kita lengah.Tapi siapa yang ingat? Who cares"Tiar Lotusia. "Orang tua yang tidak mau menerima kesalahannya tidak lebih dari sekedar orang dewasa bagi anaknya. Yah, lagi pula sekalipun kita membayar hutang budi itu berkali-kali lipat. Kita tetap disebut tidak tau diri, kan?"Bihan Bachtar. Anak-anak ini juga manusia. "Rumah orang mati" merupakan tempat dimana usaha, perjuangan bertahan hidup dan juga sisi gelap mereka mendapatkan perhatian. Selamat menyelami dunia manusia yang mati-matian ini.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan