Zahira-REVISI

Zahira-REVISI

  • WpView
    Reads 2,004
  • WpVote
    Votes 310
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadComplete Sun, Mar 31, 2019
Di umur 17 tahun zahira harus menyelami kehidupan bahtera rumah tangga. Ia mengaku salah karena keinginannya yang membuat dirinya sendiri terjerat dalam rengkuhan dosa. Mula saja bahagia dengan dirinya yang cacat, dan berakhir pada keputusan tersesat. Kini paksaan kehidupan mengajarkannya bahwa lakukan sekarang bukan lusa. Demi sang masa ia harus melakukannya dan merelakannya. Kini bahagia didepan mata, tetapi sekejap hanya tipuan mata yang menuntut kerinduan. Mata sang buah hatinya sangat mirip dengan seseorang, bagaimana ia bisa melupakannya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Persimpangan Hati
  • THE RAIN (On Going)
  • AZZELINE || (END)
  • I'm Alikha (Completed)
  • the best choice
  • Gus Zidan My Husband [SUDAH TERBIT]
  • ZAWIL
  • Dibalik Dinding Rumah Itu
  • BROKEN CRAZY LOVERRA

Di Persimpangan Hati Nadira adalah gadis berusia 17 tahun yang tampak tenang di luar, tetapi menyimpan badai di dalam hatinya. Wajahnya lembut, dengan sorot mata yang kerap terlihat sendu dan tampak menerawang, seolah selalu mencari jawaban yang tak pernah terucap. Nadira adalah tipe yang diam-diam memikul beban, lebih memilih memendam luka dan kesedihannya dalam hati daripada menceritakannya kepada orang lain. Di persimpangan hatinya, Nadira berdiri dengan keraguan yang tak pernah reda. Selalu berusaha tegar, ia sering tersenyum meski hatinya terasa kosong. Hatinya kerap dihantui oleh rasa tidak percaya diri, terutama setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang lebih sukses dan lebih dihargai oleh keluarganya. Walau sering mencoba meyakinkan diri bahwa ia baik-baik saja, kenyataan terus-menerus mematahkan keyakinannya itu. Dalam kesunyian malam, Nadira sering terjaga, mengobati luka-lukanya yang tak terlihat, sambil mempertanyakan arah yang ingin ia tempuh. Hatinya selalu terbelah antara ingin melangkah maju dan bertahan dengan perasaan yang membuatnya terpaku. Ia rindu untuk bebas, untuk berdiri di atas pilihannya sendiri tanpa rasa takut akan pandangan orang lain. Namun, di persimpangan itu, Nadira tetap bimbang-antara hati yang ingin pulih dan kenyataan yang terus mengajaknya untuk bertahan. Ditulis sejak 29 Maret 2018

More details
WpActionLinkContent Guidelines