Leo & Lea [TERBIT]

Leo & Lea [TERBIT]

  • WpView
    Reads 31,244
  • WpVote
    Votes 761
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadComplete Mon, Feb 1, 2021
PART TIDAK LENGKAP Pernahkah kamu merasa hidupmu terasa lebih sempurna hanya karena seseorang? Pernahkah kamu merasa mempunyai kekuatan saat bersama seseorang? Ini tentang Felisha Azzalea Wijaya yang merasa hidupnya paling sempurna di tengah segala kekurangannya. Semua itu karena seorang laki-laki hebat yang selalu berkata, "Kamu tidak cacat, kamu istimewa." Laki-laki itu adalah Leo Wira Tama. "Menurutku, dia itu istimewa." -Leo "Dia yang selalu membuatku merasa sempurna." -Lea *Beberapa media di cerita ini bukan hak milik saya melainkan saya ambil dari berbagai sumber. YANG MASUKIN CERITA INI KE READING LIST HARUS VOTE POKOKNYA. -Telah terbit di Kadentyas Publisher-
All Rights Reserved
#24
perfect
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mom, I'm Sorry
  • In Seventy Days
  • The Other Me (on going)
  • Mr. Perfectly Fine [COMPLETED]
  • MY AMAZING GIRLFRIEND [COMPLETE]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Imperfection : Trapped With Troublemakersβœ“ [Republish+Remake]
  • LEON
  • VANELA [On Going]

"Dia memang lelaki cacat, tapi dia adalah sosok yang sempurna untuk Ibunya." Arbian Kavidra lahir dengan satu mata, tapi itu cukup baginya untuk melihat kenyataan. Sejak kecil, dia memahami bahwa kasih sayang tidak selalu datang dari tempat yang seharusnya. Bahwa tidak semua anak berhak mendapatkan pelukan, belaian, atau bahkan sekadar tatapan penuh cinta dari ibunya sendiri. Dia tumbuh dalam hening, dalam kesadaran bahwa keberadaannya lebih sering menjadi beban daripada kebanggaan. Setiap langkahnya terasa seperti kesalahan, setiap nafasnya seolah hanya menambah kekecewaan. Bukan karena dia tidak mencoba, tapi karena sejak awal, dunia-dan ibunya-tidak pernah benar-benar menginginkannya. Namun, Arbian tetap tersenyum. Bukan karena hidupnya indah, tapi karena itu satu-satunya cara untuk menutupi lukanya. Tak ada yang tahu betapa keras dia berusaha, betapa hancur dirinya setiap kali harapan kecilnya untuk dicintai harus kandas begitu saja. Bukan dunia yang ingin dia menangkan. Bukan pengakuan orang lain yang dia cari. Dia hanya ingin satu hal-sedikit saja ruang di hati perempuan yang melahirkannya. Namun, seiring waktu, Arbian mulai mengerti. Mungkin, cinta itu memang tidak pernah ada untuknya. judul pertama : Perfection foto berasal dri pin.. 24/5/24

More details
WpActionLinkContent Guidelines