Long Our Love

Long Our Love

  • WpView
    Reads 3,242
  • WpVote
    Votes 1,124
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadComplete Fri, Apr 17, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Baiklah Bu itu saja, permisi." Ganendra membalikkan badan searah jarum jam. Mata kami tak sengaja saling menatap. Walau hanya sekilas. "Ganteng ya.." bisik Retha yang duduk di belakang Gue. "Siapa?" Jawab gue singkat. "Ganendra lah, siapa lagi menurut Lo?" Retha mulai mencondongkan badannya ke depan. "Ah, biasa aja." Gue mulai menatap jendela yang ada disebelah kiri gue. "Tapi Gue rasa Gue gak bakal bisa menggapai dia." Retha mulai menopang dagunya menggunakan tangan. "Kenapa gitu?" "Dia itu terlalu sempurna buat Gue. Dia itu terlalu jauh buat Gue gapai. Mengharapkan dia sama aja ngebunuh hati Gue sendiri." Retha menghela nafas. "Oh gitu." Gue mulai teringat dengan tatapan Ganendra.
All Rights Reserved
#265
hidup
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rainbow In The Rain
  • RATAPAN ANGIN
  • Alletarez
  • GHAVARI
  • BABY BOY ( REVISI SEKALIAN MENYUSUN PART END )
  • Alreenzy [END]
  • LOVE STORY QIANARRA
  • MY M3SUMM Boyfriend (COMPLETE)
  • Sweet Combat
  • ALSTARAN [END]

"Kamu sengaja kan mau di tabrak sama cowok tampan sepertiku? Terus kamu pura-pura kesakitan dan minta diobatin?" Kevin malah menuduh yang enggak-enggak. "Ciih~Enak aja. Aku gak serendah itu ya, lagian kamu kegeeran banget sih. Aku tadi cuma mau minta tolong aja kok." ia mengotot keras dan mengangkat kedua bahunya. "Terserah!" Kevin memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya kembali. "Eh, bantuin dulu kenapa. Jahat banget itu orang, awas aja kalo butuh bantuan!" Jenie ngomel sendirian sambil menendang sepedanya. "Dia kan pinter ya, mana mungkin minta bantuan sama aku. Yang ada juga malahan aku yang minta bantuan dia, tapi itu gak bakalan terjadi. Gak level banget Jenie minta bantuan dia." Jenie memukul kepalanya karena dia bertingkah bodoh dan konyol Hari ini hujan turun lagi, Jenie membawa kursi rodanya berjalan kedepan jendela kamarnya yang tepat memandangi seisi kota. Hujannya lebat, suara gemuruh dan petir mengagetkan gadis itu. Dia mencoba membuka matanya dan tak menutup kedua telinganya, matanya tertuju pada sebuah pemandangan indah diluar sana. Tepat di atas langit pelangi muncul bersama dengan hujan, ini adalah kedua kalinya dia melihat keajaiban itu lagi. Tapi sekarang rasanya beda, dia melihat keindahan itu tanpa Kevin disampingnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines