Love Is The Moment

Love Is The Moment

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 8, 2018
Cinta, harapan dan rangkaian adalah suatu normal dari seorang manusia. "Cinta itu aku dan cinta dia itu adalah aku". Ya pada intinya cinta adalah sebuah rasa yang sangat-sangat sempurna. Saling melengkapi meski awalnya tidak tahu kekurangan mereka. Manusia tanpa cinta adalah manusia yang rugi. Meski nyatanya cinta berdampak mematahkan untuk para lawan jenis. Tetapi cinta disini akan berdampak manis dari pertemuan yang pahit. "Wanita payah sepertimu bisa menjadi harapanku? Cihh tidak akan pernah!" "Dasar pria konyol. Jika aku tidak ada kau pun akan tidak ada!" *** semoga suka dengan cerita ini! :-) ;-)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • A Love That Heals
  • A Feeling That Shouldn't Be There
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪
  • Sepucuk Harapan
  • #1 | Love in Chaos [Sudah Terbit]
  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • Perjalanan Cintaku...
  • Istri Cadangan

Follow dulu sebelum baca! Naila yang sejak dulu selalu menerima hinaan dari Darel terpaksa harus menikah dengan pria itu akibat mereka kepergok warga sekitar tengah berbuat hal tidak senonoh di dalam mobil. Saat itu Naila terpaksa menerima tawaran Darel untuk menjadi jalang pribadinya demi sang Ibu. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menikah diam-diam, bahkan tanpa sepengetahuan orangtua Darel. Sampai suatu hari Darel tiba-tiba hilang ingatan. Apakah Naila akan memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari kekangan Darel yang hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsu saja? Atau justru memilih bertahan sembari membantu Darel mengingat kembali tentang pernikahan rahasia mereka. "Bayi ini anakmu, Nai?" -Darel- "Iya." -Naila- "Siapa ayahnya?" -Darel- "Kamu tidak perlu tahu!" -Naila-"Kenapa anakmu begitu mirip denganku? Oh, atau jangan-jangan dia adalah anak dari papaku? Cih, jadi sekarang kamu menggantikan ibumu menjadi simpanan papaku? Dasar tidak tau malu, ibu dan anak sama saja!" -Darel- "Bagaimana bisa kamu langsung menyimpulkan kalau anak ini adalah anak dari papamu? Hanya karena anak ini begitu mirip denganmu? Dasar gila!" -Naila- "Sudahlah, jangan mengelak lagi. Sudah pasti dia adikku, dasar murahan!" -Darel- "Terserah, capek ngomong sama batu. Tapi yang pasti, anak ini bukan anak dari papamu!" -Naila-

More details
WpActionLinkContent Guidelines