Fenomena
  • WpView
    Reads 129
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 18, 2020
"Gaun itu lebih bagus disandingkan dengan kemeja kakak kembar saya. Saya bersyukur tidak merebut haknya," tutur lelaki dengan snelli putih lengkap dengan name tag seorang dokter bermarga Thious. Seketika lawan bicaranya itu luruh dengan isakan tangis yang mengguncang kuat mengguncang seraya menggenggam erat gaunnya, "You're pervert, i don't eat any lies of you anymore. Aku tahu, kamu pergi kan setelah hari itu. Tanpa kamu beritahu siapa diri kamu dari awal yang terasa berbeda. Ternyata aku mencintai orang itu, bukan setelah tapi yang sebelum," lirihnya setelah mendengar pernyataan lelaki itu. "Maura, mungkin disini peranan saya bukan untuk melengkapi hidup kamu sesuai takdir Tuhan, tapi Tuhan masih begitu baik mengizinkan saya melihat wanita yang saya cintai hari ini. Dia berlari kerumah sakit dengan baju fitting pengantinnya, dengan menggenggam gaun yang sangat berharga itu. Vital bagi saya boleh beranggapan apakah dia menunjukkan identitasnya? Wanita itu adalah benang merah takdir saudara kembar saya, Maura Stavelaine Imoris," sergah lelaki tersebut berusaha mengulum ekspresi getir seraya mengusap cairan asam yang terus meluncur membasahi pipi wanita itu. Kehidupan Ervend Yaga Thious seakan berubah, setelah menyelesaikan kewajiban menggantikan profesi saudara kembar nya, Erlend Yigo Thious.
All Rights Reserved
#15
fact
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [End] Behind The Heart
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • The Unseen
  • PENGACARA HALAL KU
  • SEPUCUK SURAT CINTA
  • My Devil Doctor ✓
  • TRANSMIGRASI ICE GIRL [END]
  • ISTRI RAHASIA ERWIN (New Version) [TERBIT!]
  • Mr. Perfectly Fine [COMPLETED]
  • Love Forza (End)

[Romance] Follow dulu, baru dibaca. Avram Gian Pradipto -Dokter dengan tingkat kegagalan operasi 0%- Wanita itu melihatku tajam. Tanpa rasa terkejut, maupun cemas. Sebaliknya, ia balik tersenyum dan menunjukkan raut lega. Lalu pelan, bibirnya mulai berucap, "Tidak, terima kasih. Tapi, aku tidak ingin sembuh. Jadi, dok ... biarkan aku tetap sakit dan meninggal pada akhirnya." Galiya Mira Tabitha -Pasien dengan tingkat keinginan mati 100%- Pria itu melihatku bingung. Penuh rasa khawatir dan takut. Ia bertindak seakan dirinya adalah pasien dan aku sebagai dokternya. Lalu cepat, suaranya mulai kembali terdengar, "Saya tidak mengerti. Kenapa ... kenapa kamu bisa memiliki pikiran seperti itu? Kematian bukan sesuatu yang mudah. Dan saya ... saya tidak akan membiarkan kamu untuk meninggal. Tidak akan pernah." Bagaimana jadinya, jika seorang dokter yang selalu ingin menyelamatkan nyawa seseorang, bertemu dengan pasien yang tidak ingin diselamatkan? Akankah tercipta sebuah pengertian? Atau justru membentuk sebuah akhir menyedihkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines