Serpihan

Serpihan

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 24, 2018
Aku berpuisi. Bukan sebab aku ingin kamu mulai melihatku, melihat luka-lukaku. Yang sebagian besarnya tertanda atas namamu. Aku berpuisi. Bukan tentang kamu. Bukan juga tentang kita. Bukan tentang kenangan yang telah habis masanya. Aku berpuisi, sebab aku telah lelah. Aku lelah menyimpan luka dan memori hanya untukmu. Aku lelah disia-siakan dan dicampakkan. Di atas luka yang belum lama kau toreh, yang masih terasa perihnya jika kau menatapku, Aku berpuisi.
All Rights Reserved
#245
berpuisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • INKONSISTENSI RASA (TERBIT)
  • harapan yang pupus
  • Indonesian Poetry
  • My Poems!
  • Sasmita Nivriti
  • Diam
  • Enigma Sebuah Perasaan (End)
  • PROSA
  • Almost.
  • Sekumpulan Sajak yang Berkisah

Bagaimana cara sederhana kita bertemu? Bagaimana cara semesta membuat kita bersatu? Bagaimana cara aku memandangmu setelah itu? Bagaimana cara kau buat aku menjatuhkan hati padamu? Bagaimana cara kita saling terjebak dalam rindu? Bagaimana cara kita akan dihadapkan pada pilu? Bagaimana cara menjaga patah hati terperangkap dalam bisu? Maaf jika tulisanku ini jauh dari kata sempurna. Karena semua yang tertulis di sini hanya berasal dari jari. Masih banyak kata yang tidak bisa tertuang karena oleh hati dibatasi. Maaf jika terlalu banyak bertele-tele, karena bagiku terus terang bukanlah hal yang sepele. Setelah apapun yang terjadi inilah kesimpulan yang meski itu menyakitkan namun sama sekali tak dapat ku pungkiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines