Serpihan

Serpihan

  • WpView
    Membaca 5
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 3
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Nov 24, 2018
Aku berpuisi. Bukan sebab aku ingin kamu mulai melihatku, melihat luka-lukaku. Yang sebagian besarnya tertanda atas namamu. Aku berpuisi. Bukan tentang kamu. Bukan juga tentang kita. Bukan tentang kenangan yang telah habis masanya. Aku berpuisi, sebab aku telah lelah. Aku lelah menyimpan luka dan memori hanya untukmu. Aku lelah disia-siakan dan dicampakkan. Di atas luka yang belum lama kau toreh, yang masih terasa perihnya jika kau menatapku, Aku berpuisi.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#66
berpuisi
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Just Words
  • INKONSISTENSI RASA (TERBIT)
  • Cinta Berbalut Puisi
  • PROSA
  • Memori (End)
  • Diam
  • harapan yang pupus
  • Diksi Dalam Sepi
  • SajakSesak 2 [Arief Aumar]
  • Enigma Sebuah Perasaan (End)

Hanya gambaran perasaan yang coba dituangkan lewat tulisan. Tidak bermaksud menyinggung, melukai atau bahkan membawa luka lama dari masa lalu. Aku pernah mengalami, dan mungkin kau pun pernah. Kecewa, marah, terluka, sedih, benci, kehilangan, dikhianti, ditinggalkan, dicampakkan, semua hal yang membawa luka dalam. Mari kita ikhlaskan saja apa yang sudah terjadi. Terima saja, cobalah menjalani, disaat kau sudah terbiasa maka luka itu tidak akan terasa sesakit dulu lagi. Karena kau butuh kedamaian dan lembaran baru. Love yourself.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan