PULKAM

PULKAM

  • WpView
    Reads 155
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 25, 2020
WpInfo
Non-Fiction
;pada akhirnya setiap orang akan pulang Tak ada kisah yang lebih terpendam dari diri seorang mahasiswa perantauan selain kerinduannya untuk pulang. Pulang kembali menginjakkan kaki di tanah yang menjadi saksi, bertemu dengan orang-orang yang dicintai, serta menikmati segala macam suasana yang tak akan bisa terganti. Mahasiswa dengan beragam aktivitas dan kesibukannya, meski bisa saja teralihkan dengan semua itu, namun tetap saja pada akhirnya rasa rindu untuk pulang itu pasti akan datang. Ada yang mampu menyimpan rasa rindu itu dengan tegar, namun tak sedikit yang justru rapuh oleh karenanya. Munof, seorang laki-laki berkacamata yang masih polos dalam dunia perkuliahan, pergaulan, dan perkotaan, harus berjuang sendirian di tanah perantauan. Kota Banjarmasin kini menjadi saksi atas kehidupannya yang berubah drastis serta cara pandang tentang kehidupan yang perlahan mengarah pada titik terang. Semua kisah bermula dari sebuah kos tempat tinggalnya dengan beragam watak penghuni, konflik, serta kejadian-kejadian lainnya. Berlanjut dengan pertemanan yang semakin menambah panjang pengalamannya. Dari pertemanan itu pulalah, ia bisa tahu bagaimana para mahasiswa yang hanya bisa pulang ke kampung halaman satu sampai dua kali dalam setahun bahkan lebih dari itu. Atau perjuangan ketika harus berpisah dengan orang tua, juga tentang cinta yang dikorbankan. Tak ketinggalan, hal-hal unik dan lucu agar bisa bertahan hidup di tengah keterbatasan. Semua terekam jelas dalam ingatan mereka yang gigih berjuang. Kelak, semua itu akan menjadi kisah yang seru untuk kembali diceritakan ketika berada di rumah yang telah lama dirindukan; Pulkam.
All Rights Reserved
#990
umum
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RIMBA MERUN
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪
  • Ambisi (The Wrong Part Of Town)
  • Salma yang bertabrakan dengan mahasiswa kedokteran, dan berakhir dengan hubungan
  • Mysterious girl
  • Rahasia di Balik Pintu Terkunci
  • Pak Udin
  • Embrace again, Arnan

Di Rimba Merun, kami belajar di sebuah sekolah kecil yang nyaris tak pantas disebut sekolah. Atapnya bocor. Dindingnya reyot. Buku-bukunya lebih tua daripada sebagian guru kami. Tetapi dari tempat itulah kami mengenal dunia-aku, Elang yang terlalu pintar, Badar yang hampir selalu mendapat nilai nol tetapi mampu membaca sungai seperti buku, Lee, Boih, Munisa, Seruni, dan anak-anak lain yang percaya bahwa kehidupan tak mungkin lebih rumit daripada ujian Matematika. Kami keliru. Hari-hari kami sebelumnya hanya dipenuhi perkara-perkara penting: menangkap ikan di Way Semah, melempar batu sampai dua puluh pantulan, berlari tanpa alas kaki, menghindari hukuman guru, dan mempertaruhkan harga diri dalam perlombaan-perlombaan yang hadiahnya bahkan tidak ada. Sampai suatu hari, orang-orang asing datang ke Rimba Merun. Mereka membawa peta tanah. Lalu menancapkan patok-patok ke tanah yang sejak lahir kami anggap milik kami. Awalnya kami tidak peduli. Orang dewasa selalu mempunyai urusan aneh yang tidak menarik bagi anak-anak. Namun patok-patok itu semakin banyak. Hutan mulai ditandai. Tanah mulai diukur. Orang-orang Dusun mulai berbisik. Dan suatu hari kami menyadari sesuatu. Garis patok itu menuju sekolah kami. Saat itulah permainan berakhir. Kami hanyalah anak-anak dusun. Kami tidak mempunyai uang, kekuasaan, ataupun orang penting yang bisa dimintai pertolongan. Yang kami punya hanyalah sebuah sekolah reyot, persahabatan, beberapa sepeda tua, keberanian yang kadang muncul pada saat yang salah-dan Elang, yang mulai mencurigai bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di Rimba Merun. Kami belum tahu bahwa usaha mempertahankan sekolah kecil itu kelak akan membawa kami berhadapan dengan orang-orang yang bahkan orang dewasa takut menyebut namanya. Dan kami sama sekali belum tahu bahwa suatu hari nanti, sebuah kata akan dituduhkan kepada kami. MAKAR. Padahal waktu itu, kami bahkan masih kesulitan memahami perkalian tujuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines