Senja
  • WpView
    Reads 488
  • WpVote
    Votes 63
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadComplete Wed, Jul 1, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Persahabatan antara gadis periang berparas cantik bernama Sunny dengan laki-laki tampan nan cuek bernama Senja, persahabatan seperti mereka pasti sangatlah di inginkan kebanyakan orang, karna seorang laki-laki hanya memperhatikan, menyayangi satu perempuan pasti langka bukan?persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak bisa di pungkiri akan menimbulkan benih-benih cinta apalagi mereka dari kecil selalu bersama. Sampai suatu hari di tempat tiap harinya mereka berdua menghabisi waktu untuk menikmati indahnya matahari terbenam. Senja merasa ada yang aneh terhadap Sunny. Mau tau kelanjutan ceritanya? Yuk halu berjamaah... 😉😁
All Rights Reserved
#429
kekeluargaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • No Longer Mate
  • Epiphany - Lee Jeno [SELESAI-REVISI]
  • Crazy Student and Bad Teacher
  • Back To You
  • Sebatas Memeluk Raga.
  • Senja dan Jingga
  • Love Letters [END]
  • Sunrise Become Sunset (End)✓

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines