TiurGuide
  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 14, 2021
Hening seketika, bahkan aku yang biasanya tak bisa diam, kali ini kikuk dan tak bisa berkata kata. Aku hanya sekilas melirik laki laki jangkung yang duduk di kursi rotan dihadapanku. Dia tetap sama, laki laki yang tenang meski mungkin saja badai tengah melanda dirinya. "Jadi, gimana le. Mau diapakan cucu kesayangan Mbah ini?. Kalau memang bisa diperbaiki yah sumonggo, jika ingin dikembalikan yah si Mbah menerima dengan hati yang lapang" Dengan suara yang semakin lirih dan bergetar, si Mbah membetulkan posisi duduknya. Bersiap menerima jawaban apapun dari menantu dihadapannya ini. "Saya..." Jeda cukup lama untuk mengatakan hal berat dan menyesakkan ini. Dengan satu tarikan nafas, dia benar benar mengatakannya. " Saya kembalikan Tiur sepenuhnya kepada Mbah dan mbah Uti" Sepenggal kalimat yang membuat duniaku hancur.
All Rights Reserved
#933
hijab
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Behind After
  • My Little Monster - Completed
  • Strong Girl Michella (END)
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • Lantunan Kalam Hati ✔
  • Let Me Love You Longer
  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • LOVE in SILENCE
  • Wrong Dream

Kita semu, dan aku mungkin hanya cerita tidak menyenangkan lainnya dari cinta pertamamu yang kelabu. Kita tiada, seperti suara riuh dari hujan yang sia-sia. -- [Beberapa part sengaja di-unpublish sementara karena proses revisi] Setelah kemarin, aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, sebagai bentuk penerimaan terbesarku usai kehilangan. Sebelum sampai Bandung pun, aku tahu aku hanya bersembunyi dibalik kata 'setelah' dan kita yang selesai. Sementara kamu tidak pernah hilang. Meski aku sudah tahu, rasanya kau seperti waktu, sementara aku hanya pergantian dari hujanmu yang usai--pun kemaraumu yang selesai. Aku masih bersikeras melupakan, El, mengisi hujan yang terlalu riuh dan pergantian musim yang terlalu lengang. Bandung sudah mengirimkan banyak orang-orang baru, memberitahu jika tanpa hadirmu pun, aku bisa melalui semuanya. Namun tetap saja, hatiku batu. Seluruh penuh dan kosong hanya meyakinkanku soal kamu. Sementara bagimu, aku tidak pernah punya ruang, bukan? Aku hanya kosong yang senang ketika kauminta menggenapkanmu paksa, memulihkanmu dari bekas luka dan cerita lama. Sudah hampir setengah dasawarsa, dan aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, menulis seluruh riuh hujan yang gembira dan cerita tentang perempuan kaku yang pandai berpura-pura. Terima kasih, El. Kau tetap manusia meneduhkan dan sungguh berharga bahkan setelah Bandung berhasil mengubah sebagian besar dari bagaimana aku melihat dunia. [COMPLETED]

More details
WpActionLinkContent Guidelines