BLACK AND WHITE  PROMISE

BLACK AND WHITE PROMISE

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 31, 2018
Stevanie POV: Aslan jangan halangi aku,ku mohon. Aku harus lakukan ini,kalau tidak kita berdua akan mati. Aslan POV: Tidak,Stev,apa kamu sudah gila,hah? kamu bisa mati di sana. Aku tidak mau kamu mati.Kalau kamu mati aku juga mati. Stevanie POV: Enggak ,kamu gak boleh mati.jangan siasiakan kesempatan hidup ini. Aslan , bila nanti aku tidak dapat kembali . Berjanjilah padaku untuk hidup dengan bahagia dan lupakanlah aku agar kamu tidak akan pernah bersedih. Berjanjilah,Aslan,berjanjilah. Aslan POV: Tidak! jangan pernah berkata seperti itu.Aku tidak mampu bertahan tanpamu.Kalaupun nanti kamu tidak akan kembali, berjanjilah,stev, berjanjilah padaku. Kita akan bertemu lagi , kita tuntaskan yang belum sempat kita lakukan.Berjanjilah ! berjanjilah kita akan bersatu lagi di masa depan. Berjanjilah padaku ,stev, berjanjilah! Stevanie POV: Aku berjanji ! Aku berjanji ! Aku berjanji ! Aku berjanji , Aslan. hiks hiks
All Rights Reserved
#27
haechannct
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • FOR YOU (JOHNJAE) (HIATUS)
  • MY LADDY BOSS  ||  HEERINA
  • Winter
  • dimana janji tersebut
  • Promise [FreFlo]
  • My Friend Is My Strength
  • Empty | 00L NCT Dream
  • Ananta Bandhana

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines