Nada, Melodi, dan Aksara

Nada, Melodi, dan Aksara

  • WpView
    Reads 43,855
  • WpVote
    Votes 2,971
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 24, 2020
Terima kasih telah bersedia memungut serpihan hatiku yang berserakan tak bernilai, merangkainya hingga kembali utuh. Terima kasih telah menjadi pelita di tengah jelagaku. Terima kasih karena telah mewakiliku menikmati indah pemandangan dunia. Dan terakhir, terima kasih telah bersedia membuat hatiku terpaut padamu. Meski akhirnya kaupergi, terima kasih, karena bersedia membawanya bersamamu. Karena jika bukan padamu, hatiku menolak untuk jatuh. Author's note: Mohon maaf bila kisah ini bukanlah romansa segitiga seperti yang pembaca bayangkan. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang melodi patah dalam balutan aksara yang gelisah. Mulai ditulis di Palembang, tanggal 15 November 2018. Oleh Silvia Rodiana, gadis pencipta karya remah-remah.
All Rights Reserved
#865
sastra
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cahaya [COMPLETED]
  • Setulus Kasihmu (End)
  • ZiAron [END]
  • Sharena [Completed]
  • REGATHAN [END]
  • please stop it!! [Ending]
  • Aksara Tak Bertuan
  • Gone(✔)🔚
  • Ruang Diksi [Completed]
  • REANA [SELESAI]

⚠️PERINGATAN!⚠️ CERITA INI DIBUAT SAAT AUTHOR BELUM MEMAHAMI BETUL BAGAIMANA KAIDAH PENULISAN NOVEL YANG BAIK. JADI BAGI KALIAN YG TETAP INGIN MEMBACA, HARUS SIAP MENGHADAPI BANYAK KECACATAN DI DALAMNYA. MOHON KRITIK DAN SARANNYA. SEKIAN. TERIMA KASIH. --- Dunia itu indah. Dunia itu menyenangkan. Setidaknya dua hal itu yang dapat aku yakini tentang dunia, beberapa tahun silam. Sampai suatu tragedi yang tak diinginkan terjadi, aku harus dijauhkan dari dunia itu. Terus dijauhkan. Sejauh-jauhnya. Bunda juga selalu berusaha menanamkan keyakinannya bahwa dunia itu kejam, dunia itu berbahaya. Ia terus mengingatkan tentang ini dan itu, tentang hal yang menurutnya akan mampu membuat keyakinanku goyah. Aku, dengan segala keterbatasanku sekarang, percaya, dunia tidaklah kejam. Ayahku juga pernah bilang : Jikalau dunia memang kejam, kenapa tidak dari dulu manusia dibinasakan? Kejam, bukan? Tapi kenyataannya apa? Masih banyak manusia hidup bahagia di luar sana. Masih banyak cinta-cinta bertebaran di setiap detiknya. Dari sana aku semakin yakin, akan ada banyak sekali hal yang bisa aku ambil dari luasnya dunia. Aku ingin sekali keluar. Aku ingin melihat dunia lebih detail, dunia yang telah tersia-siakan sejak tiga tahun terakhir. Dan jika aku sungguh bisa terbang bebas melihatnya, maka izinkan aku, Cahaya Aldebaran, gadis tunawicara ini membagikan kisahku pada kalian. Boleh, kan? Start at June, 25th 2018

More details
WpActionLinkContent Guidelines