Laila : Ekskul (Completed)

Laila : Ekskul (Completed)

  • WpView
    Reads 1,518
  • WpVote
    Votes 190
  • WpPart
    Parts 33
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 23, 2020
Bukankah sahabat seharusnya tidak pernah meninggalkan diri kita sendirian, saat kita membutuhkannya? Dari bagian hidup yang inilah, justru aku belajar tentang kehidupan. Mungkin bagiku, kehidupan sedikit kejam. Ia membuatku ingin berlari. Ia membuatku ingin terus berlari jauh, menghindari semua yang membuatku sesak. Namun, aku memilih tidak menyerah dan bergelut mencari jati diri melalui ekskul (baca : ekstrakurikuler). --- "Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tapi kita bisa memilih sikap apa yang akan kita lakukan dan bagaimana menjalaninya. Dari sikap yang terbaik akan menuai hasil yang terbaik." Juni kepada Laila. --- "Apa kamu tahu, kalau semua ada waktunya? Jika kita memaksakan sesuatu yang belum waktunya, akan terlihat bahwa kita seperti makhluk yang menentang semesta."
All Rights Reserved
#480
yogyakarta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Antara  [End]
  • Semu [Completed]
  • ANTARA KITA DAN CERITA
  • LAST BUT LOST
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • LEITHLEACH
  • ALKANTARA || END || Belum Revisi
  • Ketaksaan Cinta ✔️
  • ILUNGA √

Hanya menuang segala kata dalam hiruk-pikuk kehidupan-merekam apa yang lewat, menuliskan apa yang terlintas, tanpa janji akan kedalaman atau kebijaksanaan. Tidak ada urgensi untuk menjelaskan, tidak ada kepentingan untuk dipahami, sebab dunia sudah penuh dengan orang yang mengira dirinya tokoh utama. Kata-kata berdiri sendiri, mengalir mengikuti arus yang tak selalu jelas arahnya, seperti rapat yang seharusnya bisa diselesaikan dengan satu email. Kadang tajam, kadang datar, sering kali hanya sekadar ada, mengisi ruang seperti iklan yang muncul di saat paling tidak dibutuhkan. Kadang melankolis, kadang sinis, kadang seperti bercanda tapi ternyata menyelipkan sesuatu yang dalam. Hidup ini kadang absurd kadang, ah sudahlah-namun makna di dalamnya juga sering lewat tanpa permisi. Saya pun sadar, tidak semua orang punya waktu untuk membaca sesuatu yang mungkin hanya sekadar refleksi seseorang yang terlalu banyak diam di pojok ruangan, mengamati bagaimana orang-orang tertawa, menangis, lalu pura-pura lupa bahwa mereka pernah melakukan keduanya. Tapi tenang saja, saya tidak akan memaksa Anda untuk membaca sampai selesai-membaca separuh lalu berpikir, "Ah, ini mah nggak masuk akal," juga merupakan bagian dari perjalanan menemukan makna, bukan? Maka, jika pada akhirnya tulisan ini lebih mirip tumpukan halaman tugas yang ditunda dikerjakan sampai tenggat waktu atau coretan iseng di pinggir buku catatan kuliah yang berakhir lebih eksistensial dari esai akademik-saya tidak akan terkejut. Seperti manusia yang mencari hiburan, semua tulisan ini juga mungkin sedang mencari pembacanya yang tepat, atau setidaknya, seseorang yang cukup penasaran untuk bertanya, "Ini cerita isinya apa sih?" sebelum akhirnya menguap dan kembali membuka media sosial. Jika Anda menemukan sesuatu yang berharga di dalamnya, anggap saja saya sedang beruntung. Jika tidak, ya, setidaknya saya sudah menyumbang satu tulisan lagi ke alam semesta ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines