Teruntuk senja yang teramat dirindu bumi menautkan indah itu ditepi langit barat, memanjakan berjuta pasang mata yang senantiasa menengadah mengagumi keindahannya hingga sejenak melupakan damainya bumi yang perlahan menggelap, baru saja sang mentari meninggalkan lelah menuju tempat peristirahatannya, tepat saat gelap itu menyapaku saat aku tengah terbuai akan indahnya senja.
Terkadang aku pernah bermimpi untuk dapat menikmati indahnya bulan dan bintang suatu hari nanti, hanya saja Tuhan terlampau baik, hingga Ia menciptakan malam istimewa untukku yang hanya kegelapan yang mampu ku nikmati. Sekalipun aku tidak pernah mengenali keindahan malam yang selalu mereka katakan, yang aku kenal tentang malam hanyalah gelap. Meski demikian aku tidak menyesalinya, gelap selalu mendekatkanku pada Sang Maha Pencipta, dimana kala gelaplah aku selalu merasa berada dalam dekapan karunia-Nya.
Setiap kalinya penantianku selalu sama, menantikan hari esok tiba dimana inderaku akan kembali mampu menyapa sederet keindahan ciptaanNya.
Raina, Gadis yang terlahir dengan Vonis Rabun Senja, namun di balik segala keterbatasan itu selalu ku langitkan sejuta panorama mimpi bersama senja terakhirku, sebelum hari kembali merenggut kenikmatan penglihatanku.
Dulu mama dan papa adalah malaikat malamku, aku bahagia berada dalam dekapan nyamannya sekalipun dalam kegelapan. Hanya saja sejak tragedi itu merenggut keduanya, aku tidak bisa lagi bersemayam dalam kenyamanan pelukannya.
Negeri Jepang adalah impianku, berawal dari animasi-animasi yang selalu ku tonton sejak kecil, hingga kekagumanku pada kecanggihan tekhnologinya, namun ternyata takdir tak merestuiku untuk berpijak di negeri Sakura itu, arus kenyataan yang malah mengenalkanku pada cinta, cinta-Nya yang Ia titipkan kepada Mahluk bernama Pria, yang senantiasa menceritakanku akan keindahan malam yang membuatku merasa begitu nyata menyaksikan keindahannya.
All Rights Reserved