Indah pada Waktunya

Indah pada Waktunya

  • WpView
    Reads 194
  • WpVote
    Votes 54
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 5, 2019
"kalo lo jadi matahari, gue siap jadi awannya," ucap seorang lelaki. Perempuan dan laki-laki itu kini sedang duduk di taman, dan melihat kearah langit. "Loh? Kenapa emangnya kak?" Tanya perempuan itu. "Matahari sama awan selalu ditakdirkan bersama. Jadi, gue sama lo akan ditakdirkan bersama-sama," Perempuan itu terkagum akan ucapan lelaki itu. "Lo suka hujan?" Tanya lelaki itu. "Suka. Suka banget malahan," jawab perempuan itu. "Setelah hujan ada pelangi, dan pelangi membuat kita menjadi bahagia. Sama kayak lo, lo itu ibarat pelangi yang bisa buat gue bahagia," ucap Lelaki itu. Takdir memang tidak bisa dipaksakan. kadang yang menurut kita akan jadi teman hidup, ternyata malah menjadi musuh. Kadang yang dianggap biasa saja, ternyata menjadi teman hidup.
All Rights Reserved
#173
kakel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • AZAM : Satu Langit Dua Doa
  • [☑️] Love with Innocent Girl
  • Nada Rahasia di Antara Kita
  • Because I'm Stupid (End)
  • LUKA BIASA GADISKU
  • Pelangi untuk Hujan(on going)
  • [NCT DREAM] Seven Boys In My Life || arasweetstrawberry ✔
  • KEPERGIAN SENJA
  • Davidson || END
  • Giant Baby [COMPLETED]

"Kita memang memandang langit yang sama, tapi di setiap do'a kita melayang ke arah yang berbeda." Azam, seorang siswa SMA kelas XI, tumbuh dalam keluarga yang taat beribadah, tenang, dan penuh dengan prinsip. Hari - harinya sederhana: sekolah, nongkrong bareng teman - temannya, dan menatap hidup dengan logika yang rapi. Hingga seorang siswi pindahan bernama Evelyn muncul dalam kehidupannya, berbeda keyakinan, berbeda cara pandang, tapi perlahan mengusik isi kepalanya. Evelyn datang dengan luka yang disembunyikan di balik senyumnya. Ia gadis yang terlihat kuat, tapi jauh di dalam hatinya, ada keresahan yang tak bisa ia bagi ke sembarang orang. Di tengah dinamika sekolah, mereka dipertemukan dalam momen - momen kecil yang tak pernah mereka duga akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar. Akan tetapi, bagaimana jika kedekatan itu justru menuntun mereka ke batas yang tak pernah disepakati? Bagaimana jika rasa itu hadir, tapi dunia tak mengizinkannya tumbuh?

More details
WpActionLinkContent Guidelines