Cahaya
  • WpView
    GELESEN 50
  • WpVote
    Stimmen 3
  • WpPart
    Teile 1
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert So., Nov. 18, 2018
Aku berusaha melupakan luka. Aku sudah lelah menunggu. Karena "Tunggu" yang terucap tidak ada akhirnya. Aku lelah menanti hal tak pasti. Bagiku semua sudah usang, tak berarti. ~Cahaya, Madiun. Surakarta, jadi tempat ternyaman kedua selain kota dimana kita bertemu. Dimana kota itu menjadi saksi akan lahir dan dewasanya kamu. Menjadi kota tempat kamu tumbuh dan berkembang serta menuntut ilmu. Aku rindu kota itu dan kamu. ~Langit, Surakarta. Cahaya, maaf kita sudahi saja ya. Bukan aku yang seharusnya mendampingimu. Dia lebih berhak atas kamu. ~Terang, Madiun.
Alle Rechte vorbehalten
#142
cahaya
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Biarkan aku yang pergi
  • Puisi 'tuk kau, Yang merindu
  • Dia Semesta
  • Khayalku
  • LANGIT MENTARI
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • between love and edelweiss 2 [END]
  • SENANDIKA (Zeedel)
  • Cinta Sang Prajurit (END)

Langit yang gelap juga membutuhkan sedikit cahaya, untuk membuat semua menjadi sempurna, tetapi cahaya yang semakin lama semakin redup karna cahaya bulan tak bisa membuat langit yang hitam menjadi benderang

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien