Lantunan melodi klasik mengalir tenang, nyaris tenggelam oleh hiruk pikuk musim gugur di luar jendela. Devan Federico Harintato, CEO sekaligus pewaris Adiyaksa Group, memandangi pantulan dirinya pada permukaan cokelat panas yang kian mendingin. Di kamarnya di Cambridge, Massachusetts, ribuan kilometer dari Jakarta, pikirannya jauh lebih dingin daripada malam di luar. Ia sedang melamun, menghitung sisa waktu yang ia miliki, saat ketukan pelan memecah keheningan. "Pak Devan, permisi," suara Reno, tangan kanannya, terdengar dari balik pintu. "Masuk saja." Reno meletakkan tumpukan proposal di meja, namun tatapannya tak nyaman. "Ada kabar buruk, Pak. Gedung yang kita bangun di Karawang ambruk. Ada korban. Bapak selaku Direktur Utama dan penanggung jawab, harus segera hadir di TKP." Devan menarik napas. Masalah datang tak mengenal waktu, tak peduli ia sedang bersembunyi. "Saya tahu. Saya pikirkan dulu."
More details