HE IS HERAKA

HE IS HERAKA

  • WpView
    Reads 165
  • WpVote
    Votes 33
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 29, 2018
. Aku ingat, ketika pertama kali aku dan Heraka pergi ke bioskop. Saat itu kami menonton film tentang penari dunia yang sangat terkenal di eranya, dan tiba cerita dimana si penari tersebut kecelakaan dan cacat, tak bisa lagi menari. Disitu jiwaku yang memang melankolis dengan cepat membuat aku menangis, bahkan sampai sesenggukan. Heraka tiba-tiba menoleh padaku, lalu berbisik. "Nay, kamu nangis?" Aku masih tidak menghiraukan dia. "Nay, kamu beneran nangis?" bisik Heraka lagi sambil menggoyangkan pelan pundakku. Aku semakin menangis. Heraka panik. Semakin mendekatkan tubuhnya dan memegangi lenganku. "Nay, serius? Jangan nangis! Aku gak bawa bedak Nay! Kalau bedak kamu luntur gimanaaa?" bisik Heraka. Seketika aku menoleh tajam padanya. Entah mengapa tangisku juga mendadak berhenti. Detik itu juga aku bersumpah kepada diriku sendiri, bahwa mengajak Heraka ke bioskop ini adalah untuk yang pertama kali dan terakhir kalinya. Dari sudut mata aku juga bisa melihat Heraka tertawa tanpa suara. Heraka benar-benar bisa membuat mood melankolisku hancur seketika. Namun saat ini, aku sadar. Kapanpun dan dengan siapapun aku ke bioskop, kenangan tentang bedak luntur itu menjadi yang hal pertama yang selalu aku ingat. . . . Disini aku akan bercerita tentang seseorang yang berbeda. Seseorang yang hadir di hidupku membawa tawa. Dia adalah temanku Dia adalah Heraka Jika kau berkenan membaca kisah unik tentangnya, aku harap kau mau membaca yang selanjutnya dan selanjutnya
All Rights Reserved
#311
kangen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TENTANG SEPASANG
  • Gamang
  • JAM 3 SORE
  • Ar.
  • Kamu
  • MAUREN (On Going)
  • Rannia√
  • I Love You
  • LOVE STORY QIANARRA

(SELESAI) "Lo itu rumah gue, mau gimanapun keadaannya, gue akan kembali ke lo dan seperti janji yang kita buat, jangan sampai ada kata putus diantara kita." Tadinya gue berpikir begitu, tentang hubungan gue dan Mirah, tapi sepertinya nggak akan semudah itu untuk kembali padanya dan menjadikannya sebuah rumah bagi gue. - Juna "Pulanglah ke gue setiap kali lo merasa dunia luar terlalu kejam ke lo. Gue berharap tujuh tahun yang kita lewati bisa jadi pondasi untuk hubungan kita selanjutnya." Nyatanya lo yang kejam ke gue dan gue nggak tau sanggup jadi rumah lo lagi atau nggak. - Mirah "Bagi gue mencintai lo dari jauh sudah lebih dari cukup, bagaimanapun itu juga cinta tetap cinta, kan?" awalnya gue pikir begitu, gue ikhlas dan rela menatap lo dari jauh, nyatanya setelah bertemu dengan lo dari dekat dan mengenal lo lebih jauh, sekedar melihat dari jauh nggak cukup untuk gue. - Diran "Gue nggak pernah percaya soal cinta pada pandangan pertama, karena gue pernah bertahan bertahun-tahun dengan seseorang, nyatanya dia pergi juga dari gue bahkan setelah gue memberikan segalanya untuknya. Nggak ada jaminan apapun dalam membangun sebuah hubungan." tapi setelah bertemu dengan dia, gue malah jatuh cinta pada pandangan pertama. - Iris "Lo itu menyebalkan, baru kali ini gue ketemu manusia yang gengsinya kebangetan kayak lo, keras kepala dan pengin menang sendiri, namun anehnya gue nggak membenci lo, gue malah jatuh cinta dan ingin menjaga lo seterusnya." harusnya gue bilang begitu langsung ke lo, nyatanya kalimat barusan hanya bisa gue ucapkan di dalam hati. - Nares "Tugas seorang adik adalah mendukung setiap keputusan yang dibuat oleh kakaknya, maka gue pun akan mendukung apapun yang lo inginkan, termasuk jika lo ingin bersamanya, karena gue adik lo." seandainya perasaan gue seikhlas dan selegowo itu untuk menerima keadaan serta kenyataan yang dibuat Tuhan untuk kita, gue nggak akan menangis di tengah hujan salju seperti ini. - Aruna

More details
WpActionLinkContent Guidelines