Aksara Rindu dan Cinta dalam do'a

Aksara Rindu dan Cinta dalam do'a

  • WpView
    Reads 19,012
  • WpVote
    Votes 600
  • WpPart
    Parts 148
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 14, 2020
Aksaraku memang tak indah Hanya susunan bait-bait kerinduan Do'a itu adalah jembatan penghubung.. Segala sesuatu yang jauh tak tersentuh dapat terpeluk dengan utuh.. Keinginan yang berseberangan dapat bersatu dengan penuh keyakinan.. Jarak bukan suatu halangan untuk menjadikan cinta ini melemah.. Karena aku punya Allah yang akan selalu menjaga dan menguatkan cinta kita💕 Tuhan juga menciptakan jarak agar kita bisa saling menjaga.. Saling menjaga dalam do'a, agar kelak ketika kita berjumpa, kita dipertemukan dengan cara yang baik dan DiridhaiNya.. Oleh karena itu tetaplah melangitkan do'a do'a baikmu..! Sebab tidak ada yang mustahil BagiNya untuk memperkenalkan nya.. Dan kau hadir dari tiada menjadi ada Hanya lewat do'a tumpuanku melewati getiran pahitnya rindu dan cinta~ #zh@ria_Cinta rindu dalam do'a
All Rights Reserved
#29
rela
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • untuk damai
  • Tertulis Dalam Doa
  • Garis Singgung
  • Bulan Berkisah [SUDAH TERBIT]
  • Ruang Rasa
  • 31 Months for You (Revisi)
  • Sepertiga Malam Tentangnya
  • Mahligai Sunyi
  • JAUH DIMATA DEKAT DIDOA
  • KETIKA HATI HARUS MERELAKAN

Di antara lorong-lorong masa tua yang sunyi, di sebuah kamar bernomor tujuh di kota kecil Salatiga yang dingin dan penuh embun, dua lelaki tua duduk bersebelahan. Satu terbaring dengan mata nyaris kosong, satunya lagi menyisir rambut pasangannya dengan kelembutan yang nyaris menyakitkan. Suara dari walkman tua mengalun pelan-lagu lawas yang menyimpan lebih dari sekadar melodi: ia menyimpan hidup. Begitulah kisah ini dimulai. Dengan sebuah lagu. Dengan sepotong waktu yang tidak bisa diulang, tapi bisa diputar ulang. kembali ke tahun 2000, saat Damai, seorang remaja Jogja yang spontan dan hangat namun peka terhadap detail-detail kecil dunia, bertemu dengan Alam -anak Jakarta yang dikirim ibunya untuk 'beristirahat dari kebisingan'. Alam membawa kegelisahan seorang anak yang belajar menelan sunyi. Jogja menjadi panggung bagi pertemuan mereka, tapi bukan sekadar latar: kota ini adalah karakter ketiga dalam hubungan mereka. menjadi ruang di mana Alam dan Damai berjalan bersama. Membicarakan hal-hal kecil. Makan roti isi sambil duduk di stadion kosong. Mandi di Kali Winongo, ciprat-cipratan seperti bocah. Tidak ada yang berbeda . Yang ada hanya kehangatan yang tumbuh perlahan-dan itu cukup. Bahkan mungkin lebih dari cukup. Seiring tahun-tahun berlalu, mereka tumbuh. Dunia berubah. tubuh Alam mulai memudar. Tapi tidak kenangan mereka. Setiap sore, Damai memutar lagu dari kaset mereka yang lusuh dan di sinilah pembaca akan memahami: bahwa surga, seperti yang mereka bicarakan di usia lima belas di stadion tua, bukanlah tempat. Surga adalah momen. Adalah keberadaan yang lengkap, bukan sempurna. Adalah hari-hari ketika kamu merasa cukup, tanpa perlu memiliki segalanya. untuk damai adalah cerita tentang rumah yang bukan hanya tembok dan atap, tapi mata seseorang yang mengenal kita tanpa harus dijelaskan. kisah yang akan membuatmu berpikir, walau hanya sekali dalam hidupmu: kalau ini bukan surga, aku tidak tahu apa lagi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines