Cermin Ibu

Cermin Ibu

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 22, 2018
Mina, seorang gadis remaja yang sangat cantik dan mandiri. Orangtuanya mengalami kecelakaan yang sangat parah ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, Mina di asuh dan tinggal bersama kakek dan nenek nya di kota. Mina sangat suka berdandan sama seperti ibunya, ia selalu saja berada di depan cermin milik ibunya dulu, baginya ketika ia berada di depan cermin itu, ia merasakan kehadiran ibunya. Namun, sebuah kejadian tak terduga datang padanya dan membuat Mina menjadi terpuruk sedih. Hari-hari yang biasanya berseri-seri kini menjadi sebuah kesedihan di hati. Akankah kesedihan itu dapat berakhir?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Persimpangan Hati
  • Come To Leave (Revisi)
  • SIMETRI
  • DANADYAKSA
  • FATE [END] ✔
  • Broken Home(Rumah Untuk Keela) TAMAT
  • Yang Tak Pernah Kembali - On Going
  • Analog Melankolis
  • LOSER'S HAPPINESS (END)

Di Persimpangan Hati Nadira adalah gadis berusia 17 tahun yang tampak tenang di luar, tetapi menyimpan badai di dalam hatinya. Wajahnya lembut, dengan sorot mata yang kerap terlihat sendu dan tampak menerawang, seolah selalu mencari jawaban yang tak pernah terucap. Nadira adalah tipe yang diam-diam memikul beban, lebih memilih memendam luka dan kesedihannya dalam hati daripada menceritakannya kepada orang lain. Di persimpangan hatinya, Nadira berdiri dengan keraguan yang tak pernah reda. Selalu berusaha tegar, ia sering tersenyum meski hatinya terasa kosong. Hatinya kerap dihantui oleh rasa tidak percaya diri, terutama setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang lebih sukses dan lebih dihargai oleh keluarganya. Walau sering mencoba meyakinkan diri bahwa ia baik-baik saja, kenyataan terus-menerus mematahkan keyakinannya itu. Dalam kesunyian malam, Nadira sering terjaga, mengobati luka-lukanya yang tak terlihat, sambil mempertanyakan arah yang ingin ia tempuh. Hatinya selalu terbelah antara ingin melangkah maju dan bertahan dengan perasaan yang membuatnya terpaku. Ia rindu untuk bebas, untuk berdiri di atas pilihannya sendiri tanpa rasa takut akan pandangan orang lain. Namun, di persimpangan itu, Nadira tetap bimbang-antara hati yang ingin pulih dan kenyataan yang terus mengajaknya untuk bertahan. Ditulis sejak 29 Maret 2018

More details
WpActionLinkContent Guidelines