Teman Di Taman Langit

Teman Di Taman Langit

  • WpView
    Reads 104
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 30, 2018
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Nama Rumi sering didengar bahkan tak jarang diucapkan. Keluarga, kerabat, juga temannya, mereka selalu menyebut-nyebutnya. Bukan hanya karena prestasi atau penghargaan yang didapatnya, melainkan juga karena tingkahnya. Rumi sebenarnya adalah sosok yang cerdas namun sedikit egois, sombong dan terkesan nekad. Sampai di suatu ketika, dia menemukan hobi yang membawanya ke arah lebih berjiwa pemimpim. Dengan tidak meninggalkan hobinya yaitu membaca buku sejarah. Mendaki gunung menurutnya juga merupakan hobi yang bisa bermanfaat, juga bisa menjadi hobi yang terkesan menarik untuk dikisahkan. Dengan bermodalkan kata-kata tak menarik namun sakti yang berbunyi "aku bukanlah hati yang tertindas, bukanlah langkah yang berhenti berjalan. Hanya ku sebatas pencari arti dari setiap mimpi-mimpi yang kutemui." Rumi selalu bersemangat menjalani hari-harinya. Apalagi dengan ditemani sahabat- sahabat yang solid kepadanya, membuatnya seakan tak pernah berkedip sendiri. Bisakah Rumi dam sahabat-sahabatnya menaklukan puncak-puncak impian mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu hanyalah: tunduk saat mendaki dan tegak kala menurun.
All Rights Reserved
#23
moralitas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TIME will TELL {On Going}
  • Nightfall
  • RIMBA MERUN
  • 3.478 MDPL, Menapaki Cinta Di Lereng Harapan
  • Learning in Progress (Boboiboy x Yaya)
  • The Grey Of SAKARUNA
  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • Can't Break (END) KTH✔
  • Eliinaa

"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡

More details
WpActionLinkContent Guidelines