HAMPA
  • WpView
    Reads 242
  • WpVote
    Votes 46
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 8, 2018
tentang elisha yang merindukan suara detak jantung Leon. tentang diska yang kehilangan kebahagiaannya secara tiba tiba tentang raga gavin yang sudah hancur menjadi bagian dari partikel yang sangat kecil. dan tentang keputus asaan gebby dengan HIDUP. Kisah monoton mereka semua tak lepas dari kata HAMPA. Mereka benci dengan kehidupan yang fana,benci dengan orang orang yang tak peduli tentang arti kesendirian. Singkat saja mereka tak suka dengan kata HIDUP. Namun di sisi lain,hidup merupakan fase dimana mereka menemukan segalanya. Kebencian, kesedihan, emosi, amarah, tangis dan "kebahagiaan".
All Rights Reserved
#518
hampa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Space Between Us
  • If we can together
  • senyuman palsu -Tamat-
  • KELOPAK BUNGA [END]✓
  • Sea Gentala (Tamat) ✔️
  • Happy Is Bulshit
  • One Shoot Brothership ✓
  • RUANG HAMPA (terbit)
  • GERALISA (END)
  • Di Balik Senyuman Tersimpan Rasa Sakit

Langit Jakarta sore itu selalu terasa sama bagi Deshita kelabu, pengap, dan menyesakkan. Setiap harinya adalah sebuah rutinitas yang menguras energi, sebuah perjuangan tak henti untuk sekadar bernapas di tengah tuntutan masalah yang tak ada habisnya, ekspektasi keluarga yang membebani, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Dia merasa seperti sehelai daun kering yang terombang-ambing tanpa arah, lelah mencari tempat untuk berlabuh. Senyumnya semakin tipis, tawanya semakin jarang, dan yang tersisa hanyalah rasa frustasi yang mengendap di dasar hatinya. Ia merindukan ketenangan, merindukan rasa nyaman yang sudah lama hilang. Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya di tegah keterpurukan. Perlahan, kehadirannya mulai mengubah warna dunia Deshita yang semula monoton. Dia tidak datang dengan solusi ajaib, melainkan dengan telinga yang mau mendengar, bahu yang siap menopang, dan tatapan mata yang penuh pengertian. Bersamanya, Deshita menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan tanpa topeng. Dia adalah tawa yang memecah kesunyiannya, pelukan yang mengusir dinginnya, dan bisikan lembut yang menenangkan badai dalam dadanya. Ia tak pernah tahu bahwa "rumah" itu bukan selalu tentang sebuah bangunan, melainkan tentang seseorang yang bisa membuatmu merasa utuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines