Pergi Hilang, Lupakan !

Pergi Hilang, Lupakan !

  • WpView
    Membaca 1,391
  • WpVote
    Vote 124
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Des 17, 2019
Kei, gue pergi ya . Maaf gue blm bisa bikin lu bahagia ceklis dua biru 18.08 Momen yang sangat tidak pas, seharusnya sore ini dinikmati Kei untuk melihat indahnya senja bersama secangkir kopi. Tapi kini ? Ia malah melihat chat dari seseorang yang sangat merusak keindahan itu ,-
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#561
seru
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • BACK TO FRIEND | JUNGHWAN X HAERIN (TAMAT)
  • A-KU & A-MU
  • Stela 2 [ SELESAI ] ✓
  • CERITA PENDEK
  • Simple Things About You
  • You Got It
  • Terima Kasih, Rumah
  • Titah Agung
  • Big Love
  • Pieces of Light

Bagi banyak orang, Teresa dan Lionel tak lebih dari dua orang asing yang kebetulan duduk di kelas yang sama-tanpa kisah, tanpa kenangan. Tapi di balik diamnya mereka, tersimpan cerita yang pernah begitu hidup di kota kecil jauh dari Jakarta. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang saling menggenggam erat di Inggris, menjadikan satu sama lain rumah dalam dunia yang asing. Namun, tidak semua kisah indah berakhir bahagia. Sebuah pertengkaran hebat memutuskan benang di antara mereka. Lionel kembali ke Jakarta lebih dulu, meninggalkan Teresa dalam ketidakpastian yang mengikis perlahan. Sejak hari itu, keduanya tak pernah saling mencari, seolah ingin berpura-pura bahwa cinta itu tak pernah ada. Dua tahun berlalu. Takdir mempertemukan mereka kembali-bukan di kedai kopi tempat mereka biasa tertawa, bukan di taman tempat mereka dulu saling menatap, tapi di sekolah yang sama, di kelas yang sama. Kini mereka berdiri di bawah atap yang serupa, namun dengan jarak yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Mereka tidak berbicara. Tidak saling menyapa. Hanya tatapan yang sesekali bertabrakan-penuh amarah yang tertahan, rindu yang tak diakui, dan bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar mati. Mereka mencoba menjadi asing, tapi hati tidak pernah bisa benar-benar lupa. Dan pertanyaannya kini sederhana: apakah kisah ini akan berakhir sebagai dendam yang terus tumbuh, atau diam-diam menjadi awal dari pertemuan yang tak pernah mereka duga?

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan