Believe
  • WpView
    Reads 346
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 11, 2018
WpInfo
Non-Fiction
Apakah kamu percaya bahwa kamu akan baik saja dalam pelukan waktu? Ia terus menuntunmu tanpa dipegangi, seperti anak kecil yang berjalan oleng ke kanan kiri, untuk mengarungi samudra yang tak kau ketahui dalamnya, melalui gurun pasir yang tak kau ketahui lebarnya, dan melewati badai yang datang tanpa berita. Apakah kau 'kan baik saja? Ketika "kau" adalah "aku", maka aku tak tahu jawabannya. Hanya percaya, bahwa waktu akan mendewasakan dan menyembuhkan luka. Ini adalah sebuah cerita yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang kuudarakan pada semesta lalu kembali padaku untuk kujawab sendiri bersama bimbingan waktu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Behind After
  • Aku Ingin Bercerita
  • Become Baby Boy✓
  • BALADA KEHIDUPAN
  • AYAH
  • AIR MATA AWAN || YU JUNWON
  • Hikayat : Tetes Embun Jatuh di atas Sajadah (Book)
  • Aleum And 7
  • Paper Blossom

Kita semu, dan aku mungkin hanya cerita tidak menyenangkan lainnya dari cinta pertamamu yang kelabu. Kita tiada, seperti suara riuh dari hujan yang sia-sia. -- [Beberapa part sengaja di-unpublish sementara karena proses revisi] Setelah kemarin, aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, sebagai bentuk penerimaan terbesarku usai kehilangan. Sebelum sampai Bandung pun, aku tahu aku hanya bersembunyi dibalik kata 'setelah' dan kita yang selesai. Sementara kamu tidak pernah hilang. Meski aku sudah tahu, rasanya kau seperti waktu, sementara aku hanya pergantian dari hujanmu yang usai--pun kemaraumu yang selesai. Aku masih bersikeras melupakan, El, mengisi hujan yang terlalu riuh dan pergantian musim yang terlalu lengang. Bandung sudah mengirimkan banyak orang-orang baru, memberitahu jika tanpa hadirmu pun, aku bisa melalui semuanya. Namun tetap saja, hatiku batu. Seluruh penuh dan kosong hanya meyakinkanku soal kamu. Sementara bagimu, aku tidak pernah punya ruang, bukan? Aku hanya kosong yang senang ketika kauminta menggenapkanmu paksa, memulihkanmu dari bekas luka dan cerita lama. Sudah hampir setengah dasawarsa, dan aku memutuskan menuliskanmu dalam cerita, menulis seluruh riuh hujan yang gembira dan cerita tentang perempuan kaku yang pandai berpura-pura. Terima kasih, El. Kau tetap manusia meneduhkan dan sungguh berharga bahkan setelah Bandung berhasil mengubah sebagian besar dari bagaimana aku melihat dunia. [COMPLETED]

More details
WpActionLinkContent Guidelines