We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Filosofi Sajak

Filosofi Sajak

  • WpView
    Reads 318
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 1, 2018
WpInfo
Poetry
Ini perihal merelakan, bukan melupakan. Tentang kenangan yang terus menancap , pada hati juga pikiran. Tentang bibir yang terus mengucap " berhasil " hingga pada saat bertemu hati berucap " Gagal" . Pikiran dan hati terus berdebat. Antara merelakan dan bertahan. Hingga waktu yang berucap " biar aku yang menjawab " . Semua karenamu.
All Rights Reserved
#20
kebimbangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Sekali Lagi (End)
  • My Duchess / End
  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • Almost.
  • Perihku Ditinggalkan
  • CERPEN (END)
  • Setulus Rasa Untuk Kehidupan
  • Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
  • Lost in Your Mysterious Feeling [ TAMAT ]

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines