30 parts Ongoing Di sebuah dusun terpencil yang tersembunyi di jantung hutan tropis, berdiri sebuah sekolah reyot-Sekolah Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru dari kota yang tak lagi muda, menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi keinginan jiwanya: bahwa ilmu pengetahuan bisa memberi cahaya baru anak-anak disana. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang bahkan tak semuanya punya sepatu.
Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga miskin. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari hasil hutan, kebun, dan pertanian seadanya, sehingga sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan.
Lalu datang ancaman. Sebuah perusahaan sawit nasional, mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka dengan sekuat tenaga.
Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan.
Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun.
Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru, tentang anak-anak yang belajar bermimpi di antara kemiskinan, dan tentang sebuah dusun yang berjuang dari paksaan menjadi ladang kelapa sawit.
Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap-tetapi juga seluruh mimpi mereka.