Story cover for The Never Sky by AkyasMurota
The Never Sky
  • WpView
    Reads 291
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 7
  • WpView
    Reads 291
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 7
Ongoing, First published Nov 28, 2018
(Pembaruan tidak pasti ... karena penulis[ngakunya] orang sibuk)

Langit tidak pernah ada sejak gunung meletus dan menyebabkan abu menutupi langit. Tsunami menghantam pantai dan gempa bumi membelah pulau-pulau, menyebabkan bumi menjadi tak dikenali lagi.

Manusia yang tersisa dipaksa untuk bertahan hidup di bumi yang tak tertembus sinar matahari. Perlahan tapi pasti tanaman mengering karena hujan tidak pernah turun lagi, sehingga di mana-mana manusia berselisih hanya demi segelas minuman, sekaleng makanan, hingga seonggok daging basi.
          
Semakin lama populasi manusia semakin menipis dan terancam punah, tetapi alih-alih bekerja sama dengan manusia lainnya, sebagian orang malah menyatakan penyesuaian terhadap ketersediaan makanan dengan mengurangi jumlah populasi.

Di dunia seperti itulah aku terbangun. Aku tidak ingat siapa diriku, di mana aku, dan mengapa aku di sini? Tetapi aku yakin kehadiranku dalam kondisi seperti ini adalah untuk menjawab semua itu, walaupun kutahu bahwa bumi sekarang adalah bumi yang berbeda, dan meskipun kutahu langit saat ini adalah langit yang tidak pernah ada.

Mystery story that will make you see a reality in the future.
All Rights Reserved
Sign up to add The Never Sky to your library and receive updates
or
#26technology
Content Guidelines
You may also like
Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula by Irwansight
51 parts Complete
Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.
Recurring Abyss  by Lynz_spg
22 parts Ongoing Mature
🎉 Judul: Recurring Abyss ✒ Penulis: Lynz_Spg 🩶 Genre: Action • Mystery • Thriller • Dark Fantasy • Survival • Cosmic Horror • Psychological • Slice Of Life • Supernatural • Martial Art • Magic ⚠️ Warning: Mengandung adegan kekerasan, darah, trauma, situasi intens, menjijikan, dll. Pembaca diharapkan bijak, ya. Yang plagiat, semoga tangannya pindah ke kaki dan sebaliknya kaki ke tangan. ✨ Sinopsis Zafran Adinata, seorang remaja berambut putih dengan tubuh rapuh dan kutukan misterius di bawah kedua matanya, hanya ingin hidup tenang. Dunia nyata saja sudah cukup kejam, dari bekerja serabutan, menahan diri dari luka batin yang terus menumpuk, dan berpegangan pada satu hal yang membuatnya bertahan ... novel favoritnya, "Recurring Abyss." Ia membaca cerita itu berkali-kali selama bertahun-tahun, seakan halaman-halamannya adalah rumah kedua. Namun, segalanya berubah ketika sosok berjubah hitam muncul dan merusak batas antara kenyataan dan cerita. Dunia novel itu menjadi nyata, dan Zafran bukanlah pahlawan di dalamnya ... hanya karakter sampingan yang bisa mati kapan saja. Dikejar monster, terseret ke dalam konflik para dewa, dan dihantui masa lalu yang ingin ia lupakan ... Zafran dipaksa melawan takdir yang bahkan tidak pernah menganggapnya penting. Di dunia tempat kematian adalah hal paling murah, bisakah anak selemah ini mencuri hidupnya kembali? Atau Recurring Abyss akan menelannya seperti semua karakter sampingan lainnya? 📱Prolog: On Going 💬 Terinspirasi Omniscient Reader's Viewpoint & Lord of the Mysteries 📌 Catatan • Ini karya fiksi. Ada bahasa kasar. • Penulisan masih terus berkembang. • Bab rilis mengikuti mood author 😹 • Publish: 6 September 2025
You may also like
Slide 1 of 10
Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula cover
Bunda oline dan bayi tata cover
TERPAKSA MENIKAH DENGAN BADBOY ( ORINE ) cover
Spaceship Universe  cover
Recurring Abyss  cover
THE DEATH TARGET cover
between love and edelweiss [CHIKZEE] {END}~ cover
Tentang Ursulanda | dan bagaimana kami memenangkannya [ TAMAT ] [Revisi] cover
Another [END] cover
Cerita Cinta Siblings Baldwin Dan Aubrey  { Slow Up } cover

Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula

51 parts Complete

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.