Annelia's Diary

Annelia's Diary

  • WpView
    Membaca 214
  • WpVote
    Vote 28
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Jun 12, 2020
WpInfo
Fiksi
Romansa
"jadi selama satu 1 tahun semua hanya rekayasa ,Semuaa hanya tipu daya kalian.Sungguh aku tak mengerti ini permainan apaa?" ucap gadis itu "Akuu tak pernah menduga akan seperti ini semua berjalan dengan tiba² ,Semua datang secara paksa tanpaa ada sebuah kenyataan yang tak terdugaa,aku harus berpura-pura menjadi dia untuk dirimu bahagia" " Bahagia kata mu?drama ini laa yang membuat aku terluka ,Bahkan untuk terakhir kalinya aku tak bisa ada disampingnya.Semua ini kau sebut bahagia? Aku disinii berusaha tersenyum sedangkan dia terbaring berjuang sendirian " Tutur Gadis itu sambil menangis "Maaf Ann ini tak seperti apa yang kau pikirkan kan.Maaf kan semua ini Ann " Jawab laki² itu sambil Berlutut meminta Maaf
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • RAPUH!
  • Could you be a home for me? [TAMAT]
  • BarraKilla
  • [Complete] Fate in Chains
  • ANTAGONIS YANG TAK LAGI SAMA
  • Aksara Kita
  • Finding The Light ~ Moqeel  [COMPLETE]
  • Aksa
  • Become an Extra or Main Character [END]

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan