March With the Band

March With the Band

  • WpView
    Reads 286
  • WpVote
    Votes 51
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 23, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Merasa jenuh dan selalu bosan.Itulah yang dirasakan oleh Randi Lansa Bintang,Dia adalah seorang anak yang kurang akan pandangan hidup. Sampai di umur ke-15 tahunnya orang tuanya memberitahunya tentang marching band.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • NESTAPA [On Going]
  • ROCK IN LOVE
  • Dear Beloved
  • sincere love from a hurt girl
  • Love you secretly 💙
  • D I A M
  • Antara Mimpi, Cinta, dan Harapan (SELESAI)
  • PULANG [END]
  • Arkan ardiantara rimond

"Nestapa" kisah tentang seorang anak perempuan yang terlalu cepat memahami arti retak. Kiara lahir di rumah yang dulu dipandang sempurna. Rumah yang hangat, rapi, dan sering dijadikan contoh oleh orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak perempuan pertama dan cucu perempuan pertama, ia tumbuh dengan bahu kecil yang sudah dibiasakan menanggung harapan. Ia belajar tersenyum lebih dulu sebelum mengeluh. Ia belajar mengalah sebelum meminta. Namun kesempurnaan itu tidak abadi. Ketika ayahnya berubah, suara yang dulu menenangkan menjadi meninggi, tangan yang dulu melindungi berubah menyakiti, dan kesetiaan perlahan tergantikan oleh perempuan lain. Kiara tidak hanya kehilangan figur, ia kehilangan rasa aman. Sejak saat itu, rumah bukan lagi tempat pulang, melainkan ruang yang penuh kehati-hatian. Kiara tidak pernah benar-benar menangis di depan siapa pun. Ia hanya menyimpan. Maka ketika Naren datang di masa SMP-nya dengan perhatian yang tulus dan kedekatan yang tumbuh tanpa diminta, Kiara tidak serta-merta membuka diri. Ia menyukai, tapi ia takut. Ia dekat, tapi ia menjaga jarak. Trauma membuatnya percaya bahwa mencintai terlalu dalam hanya akan berakhir seperti yang ia saksikan di rumahnya sendiri. Dan ketika fitnah memisahkan mereka, ketika Naren memilih melepas dengan alasan yang terasa janggal dan menyakitkan, Kiara kembali pada satu hal yang paling ia kuasai: diam. Di situlah nestapa itu tinggal. Bukan dalam jerit, bukan dalam amarah yang meledak. Melainkan dalam senyum yang tetap terpasang, dalam langkah yang tetap berjalan, dalam hati yang pelan-pelan belajar menanggung sendiri. Nestapa bukan sekadar kesedihan. Ia adalah perjalanan seorang anak perempuan yang dipaksa dewasa oleh luka, yang tetap berdiri meski tidak pernah benar-benar utuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines