Your Life Without Mother

Your Life Without Mother

  • WpView
    Reads 208
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 18, 2019
Hai, ini awal pertama aku cerita disini hahaha. Ini semua cuma cerita kenyataan aku yaa, tapi tolong kendalikan emosi kalian kalo baca okeee. Happy Reading~ [PROLOG!] Tokoh: - Papa - Kakak Perempuan - Kakak Laki-laki - Aku - teman, dsb Aku adalah seorang anak berusia 14thn yg lama hidup tanpa seorang mama. Saat aku beranjak usia 2 SD mama ku meninggal karena penyakit yang di deritanya. Semenjak saat itu, hidup ku berubah dan kurang perhatian dari papa ku. Aku menjadi anak yang mandiri dan pintar bergaul, tapi keluarga ku tidak mendukung itu semua. Justru malah mengambil sisi negatif dari setiap kelakuan ku. Aku berharap mereka semua bisa mengerti keadaan ku dan membiarkan ku bergabung dengan kelakuan atau perilaku yang sering ku buat.
All Rights Reserved
#890
kenyataan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Sea Gentala (Tamat) ✔️
  • AIR JADI BINTANG
  • Juan [REVISI]
  • Little Father | End √
  • New Possessive Family
  • ONLY HOPE  (The End)
  • Secarik Luka [Complete]
  • When A Son Lives without Father
  • Discarded Miracle~~

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines