Aletha
  • WpView
    Reads 521
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 19, 2019
" Selamat ulang tahun Tha" ucapku padanya, tapi tak ada balasan darinya kecuali aura kemarahan yang terlihat jelas dimatanya, "Apa-apaan ini?!" bentaknya Brak! kue itu hancur hingga tak berbentuk lagi "Kamu ini kenapa?" teriakku, kesabaranku sudah habis, dia tidak bisa terus begini padaku, tapi yang membuatku marah bukan hanya karena itu, tapi karena acara yang sudah disiapkan oleh ibu menjadi hancur, bahkan dia marah di depan banyak orang, dan itu pasti melukai perasaan ibunya, dan juga aku, "kamu bilang kenapa?, coba pikir untuk apa kamu membuat acara konyol ini!" "Kamu bilang acara konyol?" ucapku tak percaya "seharusnya kamu menghargai ibumu, dan juga aku!" "menghargaimu?, untuk apa?" "sudah cukup! aku tak peduli kamu tak menghargaiku sekarang, tapi tolong hargai ibumu, aku pergi"
All Rights Reserved
#21
aletha
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALDIR (SEGERA TERBIT)
  • RAHSYA UNTUK NAURA
  • AKU HANYA UNTUK NAURA
  • ALFHALETT
  • moonlight and stars
  • Maaf' (Revisi)
  • Aletta Inara [SUDAH TERBIT]
  • memory
  • Hadiah Terbaik Dari Allah
  • [Bad] First Love

Denting luka dan riuh kehilangan berbaur jadi satu. Pecahan-pecahan perasaan berserakan di lantai jiwa kita. Rahasia yang terlalu lama disembunyikan kini berubah menjadi beban yang tak tertanggungkan. Kita mulai kehilangan-satu per satu. Kejujuran ternyata bukan hanya soal berkata benar, tapi soal keberanian untuk menanggung luka setelahnya. Kita takut berbagi sakit, takut menumpahkan amarah, takut mengakui betapa bersalahnya kita. Dan ketika semuanya pecah, hanya diam yang tersisa. --- "Dirta, jaga mereka baik-baik, ya? Aku pergi duluan. Aku sayang kamu..." - Aletha

More details
WpActionLinkContent Guidelines