Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat

  • WpView
    Reads 986
  • WpVote
    Votes 83
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Mar 10, 2021
WpInfo
Fiction
Social Themes
Shanum adalah gadis yang cantik, di balik ketegaran jiwanya. Ada sesuatu yang berusaha ia sembunyikan. Tentang kesedihannya, ia tak pernah mengizinkan orang lain untuk melihatnya. Ketika beban di pundaknya terasa terlalu berat, hingga terkadang membuatnya jatuh tak berdaya. Namun ia selalu bangkit dan berusaha mengatakan jika ia baik-baik saja. Hingga semua itu berubah, ketika ia bertemu dengan Rafan. Laki-laki dingin dan penuh wibawa itu telah berani mengusik ketenangannya. Banyak sekali masalah yang ia dapatkan setelah mengenal Rafan. Dan kebenciannya pada laki-laki semakin memuncak, hanya dengan mendengar nama Rafan. Simak langsung yuk ^_^
All Rights Reserved
#58
dakwah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Cold Teacher (END!)
  • Kamulah Takdirku✔ (Pindah Ke Apk Kubaca)
  • Di Sujud Yang Sama
  • Takdirku Untukmu (END)
  • Ning Salwa!
  • Imam dari Sepertiga Malam
  • Elshanum & Albirru
  • Setulus Kasih Aisyah [Terbit]
  • REVAN [SELESAI]

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines