Perjalananku Hidupku Yang Penuh Dosa

Perjalananku Hidupku Yang Penuh Dosa

  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 15, 2018
WpInfo
Fiction
Social Themes
Mungkin aku dulu adalah sesosok anak manusia yang tau apa artinya dosa.aku hanya manusia yang lemah,yang penuh dengan dosa. Kini aku sadar bagaimana nikmatnya hidup ini, bagaimana kesempurnaan yang telah Tuhan berikan kepada makhluk Nya. Aku di berikan kesempatan untuk hidup yang ke dua kali, setelah diriku engkau perlihatkan semua dosa-dosa ku di waktu itu. Dimana aku hanya bisa meneteskan air mata tanpa bisa bergerak.aku hanya bisa melihat mereka tertawa lepas, tanpa aku bisa berbuat apa-apa. Dan kini aku sadar,aku hidup juga karena Mu. Aku ingin bisa terbang tinggi mengapai semua impian ku. Aku ingin bisa memelukmu dalam keadaan ku yang bersih. Tidak berlumuran dosa,tidak juga tergantung pada manusia. Aku berserah diri hanya kepada Mu ,ya Robb... Jadikan aku manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya......Amiiiiin
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • Dan Mulailah Sesuatu Karena Allah
  • THE UNYIELDING  [END]
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • Insecurity [ SEGERA TERBIT ]
  • 𝓐𝓴𝓾 𝓢𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓜𝓮𝓶𝓪𝓷𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓛𝓪𝓷𝓰𝓲𝓽 𝓑𝓲𝓻𝓾 𝓘𝓽𝓾
  • Kamar Kosong 13 S2 [End] ✓
  • Tentang Pemimpi (Kisah Meraih Beasiswa LPDP)

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines