Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.
ANGIN DAN ANGAN

ANGIN DAN ANGAN

  • WpView
    LECTURAS 139
  • WpVote
    Votos 15
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContenido adultoConcluida sáb, dic 8, 2018
WpInfo
Ficción
Romance
Di kursi paling belakang, terdapat seorang gadis berseragam putih abu dengan rok sedikit diatas lutut sambil termenung menundukkan kepalanya. Kedua kelopak matanya membengkak dengan raut wajah tak segar. Jam masih menunjukkan pukul 06.05 WIB, sehingga deretan sekolah masih terasa sepi. Hanya terlihat satu dua orang siswa dan petugas kebersihan serta pedagang kantin yang tengah sibuk menyiapkan dagangannya saja yang telah hadir. "Leff, tumben datengnya pagi banget" ucap Gaby menepuk punggung Lefilita. Ya, Lefilita. Dia adalah salah seorang gadis terkenal disekolah. Wajahnya yang begitu cantik membuat setiap mata para lelaki selalu meliriknya dan menyapanya setiap kali bertemu. Hidungnya bak perosotan TK, matanya yang kebiruan bulat bak bola pingpong disertai bulumata yang lentik. Itulah yang membuatnya semakin menawan. "Ng.. Enggak papa By" ucap Lefilita terbangun dari lamunannya. "Lu nggak seperti biasanya kayak gini Ta" balas Gaby. "Nggak By, gua gapapa. Emang lagi pengen berangkat pagi aja" ucapnya sambil memutar mutarkan hp yang digenggamnya. "Lo gabisa boong. Mata lo sayu Lef, kelopak mata lo juga bengkak. Lo abis nangis." Ucap Gaby membantah. Karena penasaran, akhirnta Gaby merebut hp yang sedari tadi Lefilita putar putar. "Lef... Lo???" ucap Gaby tidak percaya dan langsung menatap sahabatnya itu dengan lekat. Lefilita semakun menundukkan kepalanya. Dan air matanyapun tak terbendung lagi. Gaby langsung meraih tubuh Lefilita dan memeluknya. Setelah keheningan antara keduanya yang cukup lama, akhirnya Gaby memberanikan bersuara. "Kenapa lo bisa put.." belum sempat Gaby melanjutkan pembicaraannya, bel pun berbunyi. Akhirnya Gaby melepaskan pelukannya dan memberikan semangat kepada Lefilita. "Udah, jangan nangis lagi. Gue ada disini buat lo Ta." ucap Gaby sambil menarik kedua sudut bibirnya.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • EPHEMERAL PRINCESS {END} ✓
  • Effort ( COMPLETED )
  • Abu Abu [ completed ]
  • Effort 2 [ Completed ]
  • Felicity [On Going]
  • Sweet Combat
  • ARGI [END]
  • My Psycopath Man (Sudah Terbit)
  • Kelas A [End]

Ephemeral berlaku bagi semesta ciptaan Tuhan. Begitu juga bagi gadis berjiwa indah itu. Dia hanyalah hujan di tengah musim kemarau yang datangnya didamba. Namun, hadirnya kerap dianggap tak ada. Nathalie Abigail Putri Gavriel. "Jen, gue pengen jadi bintang paling terang di atas sana," ucap Natha. "Bintang di atas sana udah banyak, Nath. Lo gak perlu repot-repot buat menjelma jadi bintang disana, karena Lo udah jadi bintang paling terang - ..." ucap Jeno menarik perhatian Natha sehingga gadis itu menoleh ke arahnya. "Di hati gue." "Natha ... gue sayang Lo, Nath. Natha-Nya Jeno. Jeno memang bukan pacar nya Natha, tapi Jeno temen hidupnya Natha." Gadis dengan Sejuta Luka dan Nestapa. Membangun rumah untuk sekelilingnya, meskipun dirinya tak memiliki rumah tempat berkeluh kesah. Dia adalah pemilik kisah Amerta, sedang hadirnya sendiri Lengkara. "Dek!" "Hmmm?" "Gue baru baca artikel. Katanya ada siswi SMA yang sinting karena kebanyakan belajar," tutur Rafa dengan nada dibuat menyeramkan. Natha berdecih mendengar berita omong kosong itu. "Ngarang aja lo, Bang!" "Dih, gak percaya! Beneran lho?" Rafa menekankan nada bicaranya meyakinkan Sang adik. "Y. serah," pasrah Natha menimpali ucapan nyeleneh Rafa. "Jangan gila belajar, Nath ..." tegur Rafa merasa tidak tega melihat Natha belajar dengan giat. Namun, tak pernah diapresiasi. "Kalo gak belajar gue bego. Kalo bego- ... Mama Papa gak perhatian lagi sama gue," sahut si bungsu pula. "Emang kalo Lo pinter Mama Papa perhatian sama Lo?" cetus Rafa dengan spontan. Natha tersenyum miris lantas menutup buku catatan tersebut. "Nggak juga sih, mereka cuma perhatian kalo gue sakit. Apa gue sakit sakitan aja ya, Bang?" Gadis itu kemudian menoleh pada Abangnya dengan senyuman pilu. "Tuh kan! Beneran sinting kan jadinya? Gara-gara kebanyakan belajar nih pasti." Kisah ini milik Nathalie dan Nayanika. Dua sosok dalam satu raga. Satu jiwa dan satu rasa.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido