Drama (not) Queen

Drama (not) Queen

  • WpView
    Reads 302
  • WpVote
    Votes 33
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 17, 2020
Gue 'Prita Maharani' (nama samaran), gue anggap ini adalah buku diary yang menceritakan gimana perjalanan cinta gue. Cinta remaja. Yah walaupun yang gue tulis 70% benar adanya meski nama, tempat, waktu gue samarkan dan alur sebagian gue tulis sesuai khayalan gue karna gak semua kenangan itu gue inget. Pertama kali ke kota ini, pas masih kecil. Gue bertemu anak laki laki yang sebaya sama gue, lewat depan rumah. Dan gak nyangkanya ini berlanjut sampai gue dewasa. Namun Tuhan yang maha membolak balikkan hati itu memang benar. Yang awalnya dia ngejar ngejar gue, malah balik gue yang ngejar dia. " Orang bilang, jangan terlalu benci. Karna benci bakal berubah jadi cinta. Lalu apa yang terjadi kalau itu malah menimpa ke Gue? apa gue bisa ngerebut hatinya kembali ??? " -Prita-
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Antara Pagar dan Perasaan
  • Andira [End]
  • Turned Into Love
  • Mencintai Sahabat Dadakan Ku
  • About LOL (Losing Out Love)
  • Perfect
  • It HURTS
  • Regrets of Love
  • Hilang dan Pulang
  • Eliinaa

Arvino Reyhan Dirgantara - atau Ehan, dikenal sebagai cowok kalem, sedikit dingin, dan susah ditebak. Sementara Azalea Vianita Anjani - atau Aza, cewek ceria tapi gengsian, selalu punya jawaban sarkas untuk semua hal yang berbau romantis. Mereka duduk di kelas yang sama. Satu sekolah. Satu lingkungan. Bahkan... satu gang rumah. Hubungan mereka? Jauh dari kata akrab. Saling lempar pandangan malas tiap papasan. Saling sindir kalau disuruh kerja kelompok bareng. Dan saling tutup telinga soal gosip yang nyebar soal "cocok-cocokan" dari teman sekelas. Tapi segalanya berubah saat hujan turun deras di suatu sore, dan satu payung mempertemukan mereka di bawah langit abu-abu. Sedikit demi sedikit, percakapan yang awalnya dingin mulai menghangat. Tatapan yang awalnya biasa, jadi terasa beda. Masalahnya? Mereka terlalu gengsi untuk jujur soal perasaan masing-masing. Di antara pagar rumah yang hanya dibatasi semak kecil, dua hati diam-diam tumbuh rasa - meski belum siap untuk mengakuinya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines