Dear, Aqilla

Dear, Aqilla

  • WpView
    Reads 1,216
  • WpVote
    Votes 127
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 26, 2022
"Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku. Jika ini nyata tolong hentikan" Kisah Aqilla, yang berjuang melawan sifat aslinya. Untuk membalas dendam yang dia simpan, merubah dirinya menjadi orang lain. Aqilla bukan Aqilla yang dulu. Hingga seseorang datang ke kehidupan dia, menyadarkan dia dan membantu nya dalam melawan badai kehidupan. Akan kah Aqilla mampu membalas kan dendam nya? Atau dia membuang dendam yang dia punya?
All Rights Reserved
#644
troublemaker
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • ALTAN DAMETRA
  • SAVE MY SELF
  • Mencari Cinta Sejati (END)
  • Maybe
  • Black Code (Lima)
  • Aku & Kamu Kita
  • School Magic (hanya gue yang boleh bully dia)
  • ANDIN

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines