Aku,  Kamu,  dan Pesantren

Aku, Kamu, dan Pesantren

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 7, 2018
Makkin, laki-laki kecil dan lugu menjejakkan kakinya di Pesantren. Tidak mudah baginya. Namun, Makkin yang periang berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang selalu diimpikan. Salah satunya adalah merengkuh hati sang gadis pujaan. Makkin menyadari bahwa pesantren memiliki dinding kokoh dan peraturan yang ketat. Maka, Makkin tidak hanya diam berpangku tangan. Lalu, mampukah Makkin menembus dinding Pesantren untuk merengkuh hati sang gadis pujaan?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cermin yang Retak tak Ingin di Benci
  • Never Let You Go (Complete)
  • Move On
  • Gelang cinta : ' The Bracelet of Love'
  • Jejak Hati di Persimpangan Takdir
  • Satu Atap, Satu Hati
  • Pelukan Terakhir
  • Berawal Mengagumi Atau Di Memiliki (TAMAT)
  • Saat Cinta Tak Terucap

Cerita tentang petualangan seorang gadis bernama Asya Salsabila, usia 16 tahun yang dipaksa ayahnya masuk pesantren, dan mengubur impiannya masuk SMK favorit jurusan fashion designer, sebuah cita-cita yang diinginkan sejak SMP. Namun, ternyata didalam pesantren banyak pelajaran hidup yang dia temui, mulai dari persahabatan bahkan percintaan. Ia merasakan jatuh bangun menghadapi semua permasalahannya seorang diri tanpa bantuan dari kakak-kakaknya, karena ia anak paling bungsu dari empat bersaudara dan paling dimanja. Kini ia harus dapat tegar berdiri, ketika sahabat terdekatnya yang ia percaya sepenuh hati berkhianat dan menusuknya dari belakang, kekecewaan sudah menelannya dan membuatnya depresi, sehingga lari dari pesantren, ketika hampir putus asa, seseorang datang menawarkan bantuan tapi harus merendahkan harga dirinya dengan melepas jilbab, dan mempertaruhkan ilmu agama yang sudah dipelajarinya, benturan antara prinsip dan kebutuhan untuk bertahan hidup, membuatnya dalam dilema yang besar, sampai pada suatu masa, ia harus mengalah, menanggalkan satu-satunya bukti bahwa ia anak pesantren, selembar kain yang menutupi rambutnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines