Detak Sepatu

Detak Sepatu

  • WpView
    Reads 260
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadComplete Tue, Feb 26, 2019
WpInfo
Poetry
Sepasang makhluk yang menjadi saksi bisu perjalananku melewati lembah kehancuran, sungai-sungai kesedihan, hingga mendaki gunung-gunung keputusasaan. Sepasang yang tetap bersamaku menjadi teman meski kotor tak terurus. Sepasang yang mencari tahu arahku menemukan pasanganku. Sepasang yang mengajariku kebersamaan meski tertumpuk draf-draf masalah. Ialah sepatu; guru terbaik perjodohan. Selamat merenungi diri dibalik kebenaran-kebenaran nasehat sepasang sepatu. -Andi Fahrul Rozi- Oh iya, maaf bila awal-awal puisi ini terkesan prosais, miskin diksi, dan tak beda jauh seperti diary-diary. Mereka adalah puisi-puisi lama yang tak bisa aku seperti sekarang bila tanpa mereka. Dan juga sebab kata bang Sapardi Djoko Pinurbo..., eh Darmono. ~Poetry is Poetry~ "Puisi adalah saat penulisnya menyebutnya puisi." Kamu tak bilang puisiku bagus ya tak apa, setidaknya ada aku yang mencintai mereka ^^ Selamat datang di wahana kebun wisata kata-kata~ *cekrek *cekrek
All Rights Reserved
#17
shoes
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BITCH
  • JINGGA
  • KIARA [End]
  • TENTANGMU YANG PERNAH ADA
  • Aksara Tak Bertuan
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Dimensi Angin Benua
  • Lembut Seperti Doa
  • ALTAR RASA | END ✓ |
BITCH

Ada bagian yang diprivate. Sebelum baca follow dulu. --Love You All-- Keytha Darmawan-- Takdir yang membuatku masuk kedalam dunia penuh dengan kemaksiatan. Aku benci hidupku, aku benci ditakdirkan hidup bila hidupku hanya penuh desahan lelaki hidung belang. Aku benci Tuhan yang selalu membuatku semakin sepi. Aku benci dunia ini. Adakah dirimu yang begitu mencintaiku tanpa melihat wajahku yang cantik, tubuhku yang seksi, dan hartaku yang berlimpah. Maukah kau dengan aku yang hina? Maukah kau dengan ku yang sederhana? Maukah kau dengan ku yang sudah tidak cantik lagi? Maukah kau mendekapku yang menangis? Maukah kau menciumku yang tersakiti? Maukah kau menuntunku kepadamu yang ku cintai? Dan maukah kau bertahan dengan hidupku yang malang ini? Reyfano Achmad Dirgantara-- Entah apa yang harus kulakukan. Berulangkali aku sudah putus asa dengan hidupku yang selalu disakiti oleh seorang wanita. Aku tidak peduli dengan kau yang hina. Aku tidak peduli kau berasal dari keluarga kaya, keluarga sederhana, atau bahkan keluarga miskin. Aku tidak peduli kau yang cantik atau pun tidak. Asalkan semua itu ku terima darimu yang benar-benar mencintaiku dengan tulus. Aku akan memelukmu disaat kau menangis. Aku akan menciummu disaat kau tersakiti. Aku akan menuntunmu padaku yang saat ini menunggumu dengan cintaku. Aku akan membuat hidupmu yang terasa sepi akan menjadi lebih berwarna.

More details
WpActionLinkContent Guidelines