Just an ORDYNARY stories

Just an ORDYNARY stories

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 10, 2018
WpInfo
Fiction
Action and Thriller
Setiap orang mempunyai ceritanya masing - masing, nyata ataupun tidak nyata. Namun cerita ini hanya cerita belaka, menyangkut nyata dan tidak nyata, cerita yang hanya di tulis oleh gadis biasa, wajah biasa, dan pribadi yang sama seperti orang lain. Punya hati? tentu, sesuai sains... manusia tidak bisa hidup tanpa hati, tapi ada istilah kata "tidak punya hati" hmm menurutmu? Ku ingin menyatu dengan alam... tapi tidak mau menyaingi alam... aku tidak ingin menjadi matahari, biarkan aku jadi cahaya. Aku tidak ingin jadi pohon, biarkan aku jadi angin, aku tidak ingin menjadi terang... tidak pula ingin menjadi gelap, tetapi aku terlanjur memiliki gelap...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Darkness [ORINE]
  • TERPAKSA MENIKAH DENGAN BADBOY ( ORINE )
  • 𝑨𝑹𝑰𝑨𝑳𝑨
  • Adventure Of The Lost Powerful Gods Reincarnation.
  • With You (ChikNiel) || End

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines