Menghitung Bintang

Menghitung Bintang

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 11, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
*** Kenapa memiliki mu rasanya sangat sulit untukku? Haruskah aku berterus terang kepadamu untuk yang kedua kalinya? Aku hanya sedikit cemburu jika kau dekat dengannya, tapi apa hakku? Toh aku juga bukan siapa-siapa mu. Tetangga bukan, temen sekolah bukan, sahabat bukan, saudara bukan, apalagi pacar :v "Kenapa mencintaimu dalam diam itu sulit?" Disini hanya lah music yang menemani ku dimalam yang sunyi dan sepi ini Tidak ada gangguan sama sekali, hanyalah kunang kunang yang lewat di pandangan mataku Drrrttt.. Drrrttt... Sepertinya ada pesan masuk Wah tumben ada yang ngechat:v "Jangan ganggu gue lagi! Gue udah malas liat muka lo di hadapan gue gigi, sekarang jauhi gue" Apa ini?? Baru saja aku ingin menenangkan diriku sudah ada, hal baru lagi yg muncul mengganggu pikiranku Oh my God.. Please help me.. ***
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • SECOND LEAD
  • Taken Slowly
  • A3 [AMEL AJI & ANUGERAH]✔
  • Pal In Love
  • 🎀Sahabat Jadi Cinta🎀
  • Just Friend
  • It HURTS
  • Why Me?
  • He is not My Best Friend (End)

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines