Story cover for Hati Kau Tak Adil by Genindaputri
Hati Kau Tak Adil
  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 4
  • WpView
    Reads 32
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 4
Ongoing, First published Dec 12, 2018
Mengapa disaat kita sudah menetapkan hati kepada seseorang,  Selalu ada saja yang datang untuk menempati sisi lain hati itu.  Cinta kenapa engkau ada,  Hati kau sungguh tak adil. 
Andai saja hati kau hanya muat untuk satu nama saja.  Dan tak kan terisi lagi dengan nama-nama yang lain. 
Yaaa...  Itulah yang di rasakan Nadin setiap saat iya memiliki cinta untuk seseorang.  Begitu juga untuk saat ini,  Disaat hatinya telah lama menetap sebuah nama yaitu Andre.  Cowok yang begitu tulus menyaganginya. 
Tetapi tidak untuk Nadin, walaupun dia menyayangi Andre dengan mudahnya hati Nadin tetap bisa ditempati cowok lain. Yah,  Siapa lagi Daffa namanya. 
Walaupun Nadin telah brontak dengan keinginannya itu. Memang benar kau hati sungguh tak adil.
All Rights Reserved
Sign up to add Hati Kau Tak Adil to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 9
Erlangga cover
Ruang Tanpa Suara cover
Nadi Membenci Hati  cover
If I Don't Hurt You (END) cover
Kamu dan Hujan  cover
Asmaranya Arjuna cover
Diary Ayra: Cerita Cinta SMA cover
RUANG RINDU cover
NADIN cover

Erlangga

7 parts Complete

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?