Senyap tanpa suara, diam seribu bahasa, tubuh ini kosong, jiwa pun melompong, otak tak berdimensi, namun hati memaksa untuk berdistraksi.
Bahkan, aku pun bingung. Mengapa hati tak kunjung lelah tersakiti? Mengapa otak tak kunjung bekerja dengan baik? Menyukai memang tidak salah, yang salah adalah bagaimana kita memberi porsi pada seseorang tersebut. Porsi yang sewajarnya. Namun, lain lagi untuk para 'Secret Admirer' ada ketentuan khusus, yang mungkin sudah disetujui apapun risikonya, sulit memang. Kita harus dituntut untuk mengagumi dalam diam, tak seorangpun mengetahiunya. Bahkan terkadang rasa sakit menjalar ke seluruh bagian hati, yang jika tidak teguh, pondasi pun akan hancur. Memiliki hati yang lapang dan ikhlas. Berat. Dan lagi jika mencintai lelaki tampan, pintar, hits, dan sedikit badboy namun sholeh. Sulit.
Miris, dengan tampan yang terlalu dibanggakan, prestasi yang disalah-artikan, bahkan taat yang sering diselewengkan.
Dan ya, sekali lagi aku bingung dengan diriku. Hati dan jiwa yang tak selaras ini, mengajakku untuk tetap ada disana, meski ku tahu akan pada akhirnya. Namun aku mengikuti kata hatiku, untuk tetap bertahan, hingga aku bosan dengan sendirinya
-Meyzhika Xillandra-
[ judul awal : Nine years ago ]
" Mending lo pergi "
" Pergi! " Bentak Ditya kepada Lili yang masih saja berdiri di depannya di ruangan serba putih ini.
" Gak " Respon Lili tegas sambil menatap mata Ditya tegang. Ia mendekati Ditya yang sedang duduk diranjangnya.Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya namun ia pertahankan untuk tidak jatuh saat itu juga.
" Gwe bilang pergi li. Sebenarnya apa sih alasan lo masih bertahan sama gwe yang gak guna ini? Gwe bener bener gak ngerti sama jalan pikiran lo " Ucap Ditya memalingkan wajahnya, kemudian melanjutkan ucapannya " Asal lo tau ya Li, fisik gwe ini akan mati,sebelum itu, mental gwe juga akan mati dan nantinya lo akan hilang dari ingatan gwe. Jadi lebih baik lo per- "
cup-
Ditya kaget dengan yang dilakukan Lili. Sekilas namun berhasil membuat degup jantungnya tak karuan.
" Jangan usir gwe kaya gini dit,jangan usir gwe dari kehidupan lo " Ucap Lili dengan suara yang gemetar. Tenggorokannya terasa tercekat menahan untuk tidak menangis.
" Gwe tau lo takut jadi gwe mohon lo gak perlu takut. Gwe adalah ingatan Lo. Gwe adalah hati Lo " Lili tak bisa menahan air matanya. Satu persatu cairan bening itu keluar dari pelupuk matanya.
" GUE CINTA SAMA LO DIT,GUE SAYANG SAMA LO, GUE MAU LO BERTAHAN UNTUK GUE DAN GUE MAU LO SEMBUH "
sih amatir. Mohon dimaklumi :))