Cinta Terakhir Anisa

Cinta Terakhir Anisa

  • WpView
    LECTURAS 937
  • WpVote
    Votos 30
  • WpPart
    Partes 8
WpMetadataReadConcluida mar, ene 15, 2019
WpInfo
Ficción
Romance
"Mencintaimu adalah Alasan agar Aku bisa bersamamu. tapi ternyata Kita Tidak di takdirkan untuk bersama. Aku turut mendoakan Kebahagiaanmu dgn pilihan orangtuamu. " Desah Anisa tangisnya pecah di hadapan lelaki yg ia cintai, lelaki yg selama 3 tahun ini menemani harinya. lelaki yg menghentikan perjuangan cinta Anisa. "Maaf !" ucap Azam Sendu menahan tangisnya di hadapan perempuan yg ia sakiti hatinya. "Aku Mencintaimu, Nis ! tapi Aku juga Tak ingin menjadi anak Durhaka ." lanjut Azam terbata-bata "Tidak Apa-apa, Zam ! Aku Mengerti Kondisi Kita" jawab Anisa terisak, namun tetap mencoba tersenyum di hadapan Azam. Cinta Memang tidak Pernah Salah, namun cinta kadang bersemi pada hati yg tak bisa saling memiliki.
Todos los derechos reservados
#568
dear
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • DIVIDED LOVE
  • Assalammualaikum, Ustadz [END]
  • BUKAN PILIHAN KU
  • Tak Sejalan
  • Segala Luka Diatas Duka
  • 𝐋���𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐀 𝐇𝐈𝐉𝐑𝐀𝐇 (REVISI)
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • tentang sebuah rasa

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido