Untuk Adira

Untuk Adira

  • WpView
    Reads 78
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 25, 2018
Adira perempuan biasa yang hatinya telah tertambat untuk seorang pria yang telah meninggalkan dia untuk selamanya , hingga sekarang hatinya masih menyimpan sejuta cinta untuk si lelaki yang selalu berada dalam doa nya namun allah telah memanggilnya terlebih dahulu sebelum adira mengungkapkan nya disisi lain masa depanya pun telah hancur akibat kejadian yang merenggut kesucian adira akibat kecerobohanya dan juga ia harus menghadapi omongan dari teman temanya yang menyakiti hatinya Pertemuan dengan sosok khalif seorang Ceo muda yang tanpa sengaja melihat sosok adira tengah menangis hingga membuat hatinya terenyuh untuk sang gadis Dan juga pertemuanya dengan seorang pria yang telah merenggut kesucian adira, adam yang merasa bersalah atas perbuatanya dan hendak bertanggung jawab untuk adira lantas siapakah yang akan dipilih adira?? Haiii haii ini ada sedikit terinspirasi dari kehidupan nyata .. penasaran kan?? ayo dibacaa yaaa ⭐⭐⭐
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Do you remember your first cup of coffee?
  • A New Beginning
  • ADVINES [TERBIT]
  • [#2] GUNTUR ASKA BUMI
  • UNTOUCHABLE || Sudah Tamat √
  • Dear, Edelweis...
  • Debt of Desire (END)

[SELESAI] "Lo ngomong langsung ke dia?" Medhya mengangguk mantap. "Bilang kalau lo suka sama dia?" Ia mengangguk lagi. "Yang lo maksud itu, Ginan Satyatama yang ada dipikiran gue, kan?" Medhya menyerngit. "Memang, ada berapa Ginan Satyatama di kantor kamu?" Gadis itu balik bertanya. "Ya ... satu, sih." Sang teman garuk-garuk kepala. "Maksud gue. Elo ini ..." ia mengangkat telunjuk kearah pelipis, memutar-mutarnya dengan perlahan. "... sinting?" Medhya menggeleng santai. "Aku waras. Seenggaknya, sampai detik ini, masih." Sang teman menghela napas panjang. "Pantesan tiap papasan, dia selalu ngelihat gue kayak ngelihat tai kucing. Ternyata ini semua gara-gara elo." Medhya nyengir. "Terus gimana lagi sekarang?" Adinda bertanya lagi. Ia mendekat pada Medhya yang kini bersandar di kursi ruang tengah kontrakan. "Nyerah?" Medhya langsung menoleh. "Mana mungkin," ujarnya pendek, senyum-senyum. "Dia nggak nolak aku. Kenapa aku harus menyerah?" Betul. Ginan Satyatama tak pernah menolaknya. Saat mendengar pengakuannya, lelaki itu hanya menatapnya datar, lalu mengatakan beberapa kalimat yang tidak mengandung sedikitpun penolakan. Itu artinya, kesempatan Medhya masih terbuka lebar. Masih banyak hari yang tersedia untuk menyatakan kembali perasaannya pada Ginan Satyatama. Jadi, bagaimana bisa Medhya menyerah kalau kisah mereka bahkan belum dimulai sama sekali?

More details
WpActionLinkContent Guidelines