I'm In Love With You

I'm In Love With You

  • WpView
    Reads 270
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 10, 2021
Sekalipun dunia ini menolak untuk aku bersamamu,aku akan tetap mengahadapinya tak peduli seberapa banyak pengorbanan yang harus kulakukan,yang perlu kau tahu hanya satu yaitu AKU MENCINTAIMU-Devan Davidson. Kamu manusia terbodoh yang rela mempertaruhkan segalanya hanya untuk bisa mendapatkan cinta,ku harap kamu bisa-Dinda Alleta. *** "Cepet beli atauu guee...".Dia menggantungkan kalimatnya dan memajukan wajahnya hampir mengikis jarak kita. "Aaatauu apa,gue gak takut".Ucap gue gugup,ntahlah ini kenapa jadi deg-degan gini sihh. "Gue cium,mau??". Bluss, mampus pasti nih pipi udah merah kaya apa,aduh gue malu udah tatapan dia kaya binatang buas yang mau memangsa hewan lain lagi.
All Rights Reserved
#559
masa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Capricorn
  • ||Perjodohan||✓
  • TENTANG WAKTU [Tamat]
  • Semu [Completed]
  • BarraKilla
  • Vanletta [On Going]
  • Love's illusion
  • NAYVAN [END]
  • LEARA
  • Davidson || END
Capricorn

"Aku suka sama Kak Al." Rea mengatakannya tanpa ragu. Tenang. Pelan. Tapi dalam dadanya, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Lapangan basket sore itu sepi. Matahari sudah tenggelam separuh, menyisakan semburat jingga yang menggantung di langit. Angin membawa bau rumput basah dan suara tiang ring basket yang berderit pelan. Di tengah sunyi itu, Rea berdiri, seragamnya masih rapi, rambutnya dikuncir seadanya, dan matanya menatap Kak Al, lurus. Alvano menoleh, pelan. Keringat masih menempel di pelipisnya, dan bola basket tergenggam di tangan kirinya. Ia diam. "Apa tadi?" tanyanya, suaranya rendah. Tidak kaget. Tapi juga tidak menjawab. Rea menarik napas. Ia benci mengulang. Tapi kali ini berbeda. "Aku suka sama Kak Al," ulangnya, lebih lirih. "Dari awal aku lihat Kakak main di lapangan. Aku tahu ini mungkin... aneh. Tapi aku cuma pengen jujur." Ia tidak terbiasa berkata seperti ini. Tidak terbiasa membeberkan isi hati. Tapi Rea bukan pengecut. Ia adalah seseorang yang lebih takut menyesal karena diam daripada malu karena gagal. "Aku tahu Kakak mungkin nggak mikir apa-apa. Tapi aku cuma pengen bilang," lanjutnya. "Supaya kalau besok-besok aku canggung atau... ngelihatin Kakak diam-diam, Kakak tahu alasannya." Sunyi. Kak Al memutar bola basket di ujung jarinya. Lalu berhenti. Tatapannya tidak tajam, tapi ada sesuatu yang menggantung di dalamnya. Berat. "Rea..." katanya. Lembut. Tapi nadanya membuat dada Rea mengeras. "Kamu manis. Kamu juga berani. Tapi..." Rea mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. "Aku udah punya pacar." Deg. Rea tidak menangis. Tidak mundur. Tidak bertanya siapa. Ia hanya berdiri. Diam. Lalu berkata, "Nggak apa-apa, Kak." Yang tidak dia tahu, pacar Kak Al itu... adalah Dara. Kakaknya sendiri. Dan semuanya... baru saja dimulai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines