Lelah Mengalah

Lelah Mengalah

  • WpView
    Reads 619
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 6, 2019
Sepertinya aku terlalu sibuk membuat semua orang bahagia, hingga aku lupa bahwa aku juga membutuhkannya, aku sampai lupa bahwa aku terlalu sibuk mengalah, hingga titik akhirnya aku mengalah, mengalah bukan seperti biasanya, tapi mengalah untuk berhenti, mengalah seperti kata para pengecut, sungguh Aku Lelah untuk Mengalah. Cerita Real diambil dari kehidupan seseorang, Plagiator mikir dua kali!
All Rights Reserved
#41
lelah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • I KNOW YOU DON'T CARE
  • Because I'm Stupid (End)
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • MAHENDRA
  • REINA
  • Mentari Tanpa Sinar
  • the love story of a FA
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • The Butterfly Squad

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines