Potret Diri

Potret Diri

  • WpView
    Reads 219
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 27, 2023
"Pagi ini sarapan omong kosong, nanti siang telan bulat-bulat harapan, lalu malam... lalu malam biarkan bara padam saat tersaji janji panggang, asa bakar, dan minum es punggung yang menjauh" "Potret Diri" adalah buku antologi puisi dan kisah sehari-hari yang tujuan awalnya bukan untuk berbagi atau menularkan inspirasi. Melainkan untuk penyaluran emosi yang carut-marut dan acapkali awut-awutan...deras mirip air mata Niagara. Semoga yang menemukan kisah ini bisa ikut serta dalam perjalanan menuju dirinya sendiri atau setidaknya kalau ngopi jadi tidak sendirian dan sepi. hehe catatan kaki: pake 'hehe' biar sopan. *) update setiap hari Minggu malam
All Rights Reserved
#42
surat
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • Obstacles eternal love || Fresha (End)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • Ayo menepi dulu, sebentar saja.
  • Bulan yang Didamba Matahari
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Kisah Nyata Dalam Mimpi
  • Sasmita Nivriti

Di antara ruang-ruang waktu yang rapuh, ada dua bayang yang saling mengenal tanpa pernah benar-benar berjanji untuk bertemu. Seperti angin yang tak bisa dijinakkan, mereka terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terucap-seperti dua kutub yang selalu saling mendekat, namun tak pernah benar-benar menyatu. Shani dan Gracia-dua nama yang berpadu dalam riuh dan hening yang tak berujung. Sebuah kisah yang tumbuh di antara jeda-jeda keheningan dan kesalahpahaman, di mana cinta hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, tetapi sebagai sesuatu yang terus menguji batas. Dari pertemuan yang tak sengaja, hingga keputusan yang menggantung di antara masa lalu dan masa depan, mereka bergerak dalam ruang yang terperangkap di antara harapan dan ketakutan. Cinta yang pernah lahir di celah-celah keterasingan kini harus dipahami kembali-apakah ia benar-benar bisa menjadi rumah, atau hanya sekadar bayang yang tak bisa digenggam? Dan seperti jejak yang ditinggalkan di pasir pantai yang terus dihempas angin, mereka mencoba mengerti: apakah ini adalah akhir... atau justru awal dari perjalanan yang lebih jauh?

More details
WpActionLinkContent Guidelines