Wound in the Rain

Wound in the Rain

  • WpView
    Reads 35,482
  • WpVote
    Votes 5,394
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 12, 2023
Rainaryza Rinai Putri Samudra. Seperti namanya, ia selalu dituntut untuk menjadi peneduh bagi orang-orang di sekelilingnya, hujan. Wujudnya nyata, namun berkali-kali dihancurkan. Selalu sumringah layaknya seorang penipu mahir, padahal hatinya sedang terluka menganga. Sejak kecil, Rain sudah terbiasa hidup dalam belenggu kepalsuan. Ia tak punya rumah, tak ada tempatnya untuk berpulang. Kedua malaikatnya telah lama pergi, berjarak, dan tak tergapai. "Gue cinta lo, Rain. Jangan tanya sejak kapan dan mengapa, karena gue juga enggak tahu. Ini ... di luar kendali gue." Rain menatap datar sosok Angkasa di hadapannya. "Boleh kita bertaruh ... misalnya kita bersatu, apa akhirnya enggak akan sama seperti Ayah dan Bunda gue?" Tatapan Rain tertuju pada pemuda itu dengan remeh. Angkasa tersenyum, setidaknya kali ini gadis itu memberi respon. "Gue enggak takut," tangkas Angkasa. Rain yang mendengar penuturannya lantas mengedikkan bahu acuh. Decihan terdengar dari bibir merah muda alaminya. "Cinta di mata gue itu berwarna keruh," ujarnya seraya berlalu. "Dan gue ditakdirkan menjadi Angkasa-nya Rain, sejauh apapun lo pergi dari gue, pada akhirnya hujan tetap akan kembali ke Angkasa. Rain dan Angkasa." Kehadiran Angkasa menjanjikan rumah untuk Rain berlabuh. Kehadiran pemuda itu menjadi titik balik bagi Rain. Namun, saat semuanya telah terungkap, apakah Angkasa akan tetap bertahan? © Maret 2019 by Meysa Runi
All Rights Reserved
#140
getaran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • JAM 3 SORE
  • ANGKASA ✔
  • Bintang [end]
  • PETRICHOR [Lengkap]
  • Dear Anonymous
  • SEMESTA
  • Rintik Hujan
  • RAINSAM (SELESAI)
  • Rainangkasa #2 [END]
  • POSSESSIVE GALAKSI | Terbit

JANGAN LUPA FOLLOW DAN VOTE SETELAH MEMBACA‼️ 🌥️🌥️🌥️ Jam tiga sore. Hujan turun pelan-pelan. Langit kelabu, suara kelas yang riuh, dan satu orang yang selalu duduk di belakangnya. Berisik, nyeleneh, dan nyebelin. Tapi entah kenapa Naya tak pernah terganggu sedikit pun. Naya tidak tahu kapan tepatnya Aksa mulai masuk ke pikirannya. Mungkin sejak kertas origami berbentuk kodok itu muncul atau tulisan miring Aksa yang berkata "Ini nggak bisa menggonggong, tapi bisa lompat ke hatimu." Awalnya dia mengira Aksa hanya cowok absurd yang suka gambar bebek pakai helm di dinding toilet sekolah. Tapi lama-lama... langkah kakinya jadi yang paling ia kenali. Diam-diam jadi yang paling ia tunggu. Mereka bukan kisah cinta yang gegap gempita. Tidak ada janji manis. Tidak ada gombal yang bikin meleleh, hanya obrolan aneh yang bisa membuat rindu terus bertahan. Membuat perasaan tumbuh seperti hujan-pelan, tapi pasti meresap. Kisah mereka cuma tentang momen-momen kecil yang ternyata besar. Tentang sosok yang nggak sempurna, tapi justru bikin dunia seseorang terasa lebih hidup. Tentang pertemuan yang tak disengaja, kenangan yang tak bisa hilang, dan jarak yang kadang hadir bukan karena ruang, tapi karena waktu dan keberanian yang tertunda. *********** Selamat menelusuri jejak rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Selamat membaca-semoga kamu temukan dirimu di sela-sela kisah ini. Jangan lupa tinggalkan jejakmu-vote, komen, dan bagikan kisah ini agar rindu tak hanya menjadi milik kita ❤️ NOTE : DILARANG PLAGIAT‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines